Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Eijkman Jelaskan Perbedaan Vaksin Merah Putih dengan Vaksin Sinovac

Binti Mufarida , Jurnalis-Jum'at, 14 Agustus 2020 |17:29 WIB
 Eijkman Jelaskan Perbedaan Vaksin Merah Putih dengan Vaksin Sinovac
Foto: Illustrasi Shutterstock
A
A
A

JAKARTA - Indonesia saat ini telah mengembangkan vaksin Covid-19 lokal yang diberi nama vaksin Merah Putih. Lalu, apa yang menjadi perbedaannya dengan vaksin yang dikembangkan bersama dengan negara lain seperti Sinovac?

“Secara umum, ada perbedaan antara vaksin yang dikembangkan oleh Sinovac dan vaksin yang dikembangkan oleh Lembaga Eijkman. Vaksin Sinovac itu menggunakan virus utuh,” kata Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Amin Soebandrio dalam keterangannya, Jumat (14/8/2020).

“Jadi virus secara keseluruhan virus hidup dibiakkan sebanyak mungkin kemudian dimatikan dengan bahan kimia atau cara-cara apapun. Setelah itu setelah dimurnikan, maka virus itu secara keseluruhan bisa dipakai untuk vaksin langsung. Jadi memang prosesnya lebih lebih pendek, tapi harus membiakkan virus dalam jumlah besar. Ini juga beresiko,” jelas Amin.

 Korban Covid-19

Sementara, kata Amin vaksin yang dikembangkan oleh Eijkman hanya menggunakan sub partikel dari virus Covid-19 tersebut.

“Nah, yang dikembangkan oleh Lembaga Eijkman kami hanya menggunakan bagian-bagian tertentu saja dari sub partikel virus itu,” katanya.

“Jadi misalnya kalau virus ini menempel pada manusia itu kan lewat spike-nya atau duri-durinya itu, nah itu protein spike ini yang kita jadikan sebagai target antigen. Itu yang kita jadikan antigen tapi tidak diambil langsung dari virus itu, hanya saja kita mengambil bagian itu. Jadi bukan mengambil langsung dari virus itu. Kita mengambil informasi genetik,” jelas Amin.

 

Amin mengatakan, vaksin Merah Putih menggunakan metode rekombinasi. Dengan metode, kata Amin akan meminimalkan potensi reaksi yang tidak diperlukan. Meskipun dalam prosesnya memerlukan waktu yang lebih lama.

“Salah satu keuntungannya adalah kita meminimalisasi reaksi-reaksi yang tidak diperlukan. Artinya kalau kita menggunakan full virus, maka ada potensi terjadinya reaksi terhadap komponen-komponen virus yang lainnya. Itu kita minimalisasi. Tentunya prosesnya membutuhkan waktu yang lebih lama,” katanya.

Amin menegaskan, pihaknya terus mengupayakan untuk mempercepat proses pembuatan vaksin Merah Putih sehingga bisa segera diproduksi.

“Berbagai upaya sudah kita usahakan. Tapi ada bagian-bagian yang harus dipahami bersama. Misalnya, kalau virus itu tumbuh kita tidak paksakan vaksin itu cepat. Sel-sel lain yang kita pakai dalam proses itu dia membuat memiliki proses kecepatan pertumbuhan yang harus kita ikuti,” tuturnya.

“Misalnya dia mintanya tumbuh dalam waktu 3 hari misalnya, kalau kita sudah hentikan pertumbuhannya misalnya 2 hari, maka produknya belum optimum. Nanti malah kita khawatir akan mempengaruhi produknya. Jadi di laboratorium mau tidak mau mengikuti kecepatan pertumbuhan makhluk-makhluk hidup yang kecil itu,” jelas Amin.

Amin mengatakan, proses percepatan yang bisa dilakukan saat ini salah satunya adalah dalam prosedur administrasinya yang dipersingkat.

“Tapi yang kita percepat adalah beberapa prosedur administrasinya. Jadi ceritanya di uji klinik itu normalnya bisa memakan waktu bertahun-tahun, ini kita bisa Insya Allah kita selesaikan ini kita bisa selesaikan dalam waktu satu tahun,” pungkasnya.

(Awaludin)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement