LPA Sulut Temukan Fakta Mengejutkan Terkait Kasus Pencabulan 19 Bocah

Subhan Sabu, Okezone · Selasa 03 November 2020 01:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 03 340 2303100 lpa-sulut-temukan-fakta-mengejutkan-terkait-kasus-pencabulan-19-bocah-EP8TEJM661.jpg LPA Sulawesi Utara (Foto: Subhan Sabu)

MINAHASA UTARA - Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulawesi Utara (Sulut) Jull Takaliuang menemukan hal mengejutkan terkait kasus kekerasan seksual terhadap anak yang korbannya sampai saat ini baru 19 anak yang terungkap di Desa Werot Kecamatan Likupang Selatan, Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Dalam kunjungannya bersama LPA Sulut, UPTD PPA Sulut, dan PPA Minut bersama dengan Psikolog, fakta sangat mengejutkan dan sungguh menyedihkan didapati terutama bagi anak dan orangtua korban yang langsung menjadi panik dan melakukan upaya hukum terhadap predator seks yang sudah 'mencelakai' anak-anak yang usianya bervariasi antara 5 sampai 17 tahun.

"Konflik sosial antara orangtua korban tidak bisa dibendung ketika ada di antara anak korban terungkap telah melakukan kekerasan seksual terhadap temannya seusia maupun terhadap anak yang lebih kecil. Sehingga sempat terjadi ketegangan di tengah kegiatan sosialisasi di balai desa waktu lalu," ujar Jull, Senin (2/11/2020).

Baca Juga:  Kecanduan Film Porno, Ayah Ini Tega Lecehkan Anak Kandungnya 

Dan ternyata, menurutnya, ada dua anak yang menjadi korban juga menjadi pelaku sudah dilaporkan ke polisi bahkan sempat ditahan semalam di Polsek Likupang. "Saat ini, sudah dilimpahkan ke Polres Minut dan sementara keduanya menjalani proses hukum dengan status wajib lapor," kata Jull

Nampaknya proses hukum bagi kedua anak tersebut kata dia bakal berujung ke pengadilan, padahal kedua anak yang berusia 13 dan 14 tahun ini sangat jelas adalah korban dari predator seksual anak, hanya karena orangtuanya belum sempat melapor maka keduanya telah berstatus sebagai pelaku kekerasan seksual.

"Wajah penegakan hukum perlindungan anak kita masih sangat memprihatinkan. Anak korban yang melakukan kekerasan seksual yang sama terhadap temannya karena ada intimidasi dari pelaku utama agar harus melakukan itu kepada teman-temannya, bahkan dalam melakukan aksinya sang predator seks menyuguhi anak-anak korban dengan film porno," jelas Jull

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa anak-anak korban dan orangtua korban membutuhkan dukungan dari banyak pihak, siapa pun. Penyamaan persepsi demi kepentingan terbaik bagi anak harus dilakukan oleh semua stakeholder baik dari pemerintah maupun masyarakat dan yang paling penting adalah dalam proses penegakan hukum.

"Semoga jajaran Polres Minut, Kejaksaan Minut dan Pengadilan Negeri Minut mengedepankan azas Perlindungan Anak, yakni Berbuat yang terbaik untuk kepentingan anak. Semoga Covid-19 tidak menjadi alasan untuk melakukan penegakan hukum terhadap pelaku yang kini masih dalam pelariannya. Semua tetap berpegang pada protokol kesehatan Covid-19," pungkas Jull.

Baca Juga:  Lecehkan Anak Sahabatnya, WN Perancis Ditangkap 

Diketahui, kasus sodomi ini terkuat setelah salah satu korban melapor perbuatan AD (32) yang merupakan seorang perangkat desa setempat kepada orangtuanya. Tak terima orangtua korban membuat laporan ke Polres Minut. Sejak dilaporkan, yang bersangkutan menghilang dan kini dalam pengejaran polisi. Ditengarai, terlapor sudah berbuat asusila kepada para korbannya sejak 2019.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini