1.196 Warga Pesantren di Jabar Positif Covid-19

Agung Bakti Sarasa, Koran SI · Jum'at 06 November 2020 22:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 06 525 2305571 1-196-warga-pesantren-di-jabar-positif-covid-19-Z864B2YHYA.jpg Foto: Illustrasi Shutterstock

BANDUNG - Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Jawa Barat mencatat, sebanyak 1.196 orang di lingkungan pesantren positif terpapar corona. Data tersebut dihimpun dari sejumlah pesantren di delapan kabupaten/kota di Jabar.

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Jabar, Daud Achmad menyebutkan, data tersebut diperoleh pihaknya hingga hari ini, Jumat (6/11/2020). Meski demikan, kata Daud, sebagian besar dari mereka sudah dinyatakan sembuh.

Rinciannya, 470 orang di Kabupaten Kuningan, 340 orang di Kabupaten Tasikmalaya, 57 orang di Kabupaten Sukabumi, 44 orang di Kabupaten Cianjur, 59 orang di Kota Tasikmalaya, 114 orang di Kabupaten Garut, 26 orang di Karawang, dan 86 orang di Kabupaten Bogor.

"Meski begitu, dari ribuan orang di lingkungan pesantren itu, sebagian besarnya sudah dinyatakan sembuh, seperti di Kabupaten Kuningan yang sudah sembuh semuanya dan Kabupaten Garut yang mayoritas juga sudah sembuh," ujar Daud di Bandung, Jumat (6/11/2020).

Baca juga:

Bertambah 3.778, Berikut Sebaran Penambahan Kasus Covid-19 di 34 Provinsi

Berikut 8 Provinsi Penyumbang Kasus Covid-19 Harian di Atas 100

Bertambah 3.563, Sebanyak 360.705 Orang Sembuh dari Covid-19

Menurut Daud, berdasarkan hasil kajian pihaknya, Covid-19 yang menyebar di lingkungan pesantren kemungkinan besar dibawa orang dari luar pesantren.

"Sementara ini, yang kita analisa itu ada orang luar yang masuk," imbuhnya.

Daud memastikan, bahwa sejumlah pesantren di Jabar telah menerapkan protokol kesehatan yang ketat, seperti santri yang libur dan akan kembali ke pesantren diwajibkan menjalani rapid tes maupun swab tes. Meski begitu, kata Daud, selama masih ada kontak dengan orang luar, Covid-19 masih berpotensi menular.

"Selama masih ada kontak dengan orang luar, artinya ada orang masuk dari luar ke pesantren dan orang pesantren keluar kemudian masuk lagi, potensi penularan itu ada. Makanya, kalau misal ada pesantren yang sudah ketat, jangan lupa saat proses pembelajaran itu orang keluar masuk pesantren harus ketat juga diperiksanya," tandas Daud.

(wal)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini