Berita Palsu Tentang Vaksin Covid-19 Bisa Jadi "Pandemi Kedua"

Susi Susanti, Koran SI · Rabu 02 Desember 2020 18:58 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 02 18 2320475 berita-palsu-tentang-vaksin-covid-19-bisa-jadi-pandemi-kedua-IYHL39AW1t.jpg Foto: Reuters

PRANCIS - Vaksin Covid-19 semakin dekat. Namun berita palsu atau “fake news” tentang vaksin-vaksin itu disebut-sebut bisa menjadi pandemi kedua.

Hal ini diungkapkan Presiden Federasi Internasional Masyarakat Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, Francesco Rocca, dalam pengarahan virtual kepada Asosiasi Koresponden PBB pada Senin (30/11).

Dia mengatakan pemerintah dan lembaga perlu menerapkan langkah-langkah untuk memerangi ketidakpercayaan yang meningkat dan informasi yang salah.

“Untuk mengalahkan Covid-19, kita juga perlu mengalahkan pandemi ketidakpercayaan paralel yang secara konsisten menghambat respons kolektif kita terhadap penyakit ini, dan itu dapat merusak kemampuan kita bersama untuk memvaksinasi melawannya,” katanya, dikutip CNN.

Pemimpin jaringan bantuan kemanusiaan terbesar di dunia ini mengatakan organisasinya memiliki “rasa lega dan optimisme” yang dibawa oleh perkembangan vaksin Covid-19. Tetapi pemerintah dan institusi harus membangun kepercayaan pada komunitas karena informasi yang salah telah “mengakar”.

(Baca juga: Pernah Tampil di Film James Bond, Teleskop Terbesar di Dunia Ambruk)

Rocca mengatakan ada keraguan yang berkembang tentang vaksin di seluruh dunia, terutama vaksin Covid-19. Dia mengutip studi yang dilakukan Universitas Johns Hopkins di 67 negara, yang mengatakan penerimaan vaksin telah menurun secara signifikan antara Juli dan Oktober tahun ini.

Pada saat yang sama, ketidakpercayaan tumbuh di sekitar intervensi kesehatan masyarakat lainnya yang harus terus berlanjut selama pandemi.

“Tingkat ketidakpercayaan yang tinggi ini telah terbukti sejak awal pandemi Covid-19 dan dengan jelas memfasilitasi penularan virus di semua tingkatan,” terangnya.

Dia menambahkan, contoh paling jelas yakni berapa banyak orang di dunia Barat yang tidak mau memakai masker. Meski begitu, ketidakpercayaan dan misinformasi adalah masalah global.

“Ini bukan hanya masalah ketidakpercayaan. Ini masalah informasi. Walaupun kelihatannya mengejutkan, masih ada komunitas di seluruh dunia yang tidak menyadari pandemi ini,” ujarnya.

Dia menjelaskan komunitas seperti itu biasanya rentan dan terpinggirkan, serta hidup di luar jangkauan saluran komunikasi. Dia mencontohkan Pakistan. Dari survei federasi yang dilakukan di sana, diketahui 10% responden tidak tahu tentang Covid-19.

“Kami percaya upaya terkoordinasi besar-besaran yang akan diperlukan untuk meluncurkan vaksin Covid dengan cara yang adil, perlu diimbangi dengan upaya yang sama besarnya untuk secara proaktif membangun dan melindungi kepercayaan,” tegasnya.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini