Viral, Persahabatan Lansia dan Anak Muda Akibat Pandemi Covid-19

Susi Susanti, Koran SI · Jum'at 11 Desember 2020 06:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 10 18 2325433 viral-persahabatan-lansia-dan-anak-muda-akibat-pandemi-covid-19-tnWkczlQlL.jpg Persahabatan antara nenek-nenek dan anak muda akibat pandemi (foto: BBC)

INGGRIS - Persahabatan bisa dijalin dengan siapa saja dan dalam kondisi apapun. Termasuk saat pandemi Covid-19 yang menghantam seluruh negara. Seperti yang dilakukan antara anak muda dengan para lanjut usia (lansia) yang hidup di beberapa panti jompo ini.

Skema “pertukaran” Share Ami ini sempat viral di akun Twitter selama akhir pekan dan memicu lonjakan minat pada program tersebut.

Skema yang dibuat organisasi nirlaba Prancis Oldyssey ini telah menciptakan 30 pasangan sejak diluncurkan pada Mei lalu. Namun hanya dalam beberapa hari, mereka menerima pertanyaan dari hampir 3.000 lebih orang dari negara di seluruh dunia yang ingin mendaftar.

“Kami tidak berharap ini menjadi viral saat ini sehingga siswa akan menunggu selama beberapa bulan, saya pikir sebelum kami menemukan manula untuk semua orang. Kami harus menghubungi banyak panti jompo di Prancis dan kami ingin melakukan semuanya dengan benar,” ujar salah satu pendiri Oldyssey, Clement Boxebeld.

Baca Juga: Badan Obat-obatan UE Diretas, Hacker Curi Dokumen Vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech

Clement mengatakan dia mendapatkan ide untuk skema tersebut pada 2018 saat dalam perjalanan ke Brasil. Saat itu dia melihat sekolah bahasa telah menjalin hubungan dengan panti jompo di Amerika Serikat (AS) dan Kanada.

“Kami menyukai ide itu dan memikirkannya selama dua tahun tetapi tidak punya waktu untuk mewujudkannya sampai pandemi menghentikan proyek lain,” ungkapnya.

“Kami pikir ini saat yang tepat untuk meluncurkannya karena para lansia sangat beresiko terkena virus. Pertama mereka tidak bisa keluar dan kemudian setelah kurungan, karena beresiko, banyak lansia yang masih takut keluar. Kami ingin menemukan cara untuk membuat tautan meskipun ada kendala sosial yang kami miliki,” katanya.

“Ada banyak inisiatif untuk menjalin hubungan dengan orang tua, tetapi kami juga ingin menyoroti fakta jika orang yang lebih tua dapat bermanfaat bagi generasi muda,” bebernya.

Selain menghubungkan lansia Prancis dengan siswa, sukarelawan dalam proyek tersebut menawarkan dukungan teknologi dan ikut duduk di pertemuan pertama untuk memastikan tidak ada keheningan yang canggung.

Clement mengatakan sangat lucu melihat dua orang asing bertemu melalui panggilan video. Namun kedua orang asing itu sangat cepat beradaptasi dan menemukan kesenangan satu sama lain.

Pengalaman ini dirasakan Millie Jacoby saat bertemu dengan “nenek Prancis” untuk pertama kalinya melalui panggilan video pada minggu lalu. Pelajar Inggris berusia 21 tahun itu menandatangani skema memasangkan siswa bahasa dengan orang tua Prancis, yang mengalami isolasi akibat pandemi virus corona.

“Saya pikir itu akan menjadi cara yang bagus untuk meningkatkan kemampuan bahasa saya dan mengenal seseorang yang mungkin kesepian,” kata Millie kepada BBC.

“Nenek Prancis saya, demikian kami menyebut mereka, ada di panti jompo dan mungkin tidak terlalu banyak berinteraksi sosial karena pandemi, jadi saya pikir ini waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu seperti ini,” terangnya.

Terlepas dari perbedaan usia 70 tahun antara mahasiswa Universitas Warwick dan warga senior yang tinggal di dekat Paris itu, namun keduanya langsung merasa cocok.

“Dia sangat cantik dari beberapa kalimat pertama yang diucapkan,” terang Millie.

“Kami berbicara tentang bepergian. Kami berbicara tentang saat-saat saya pernah ke Prancis dan apa yang saya pikirkan tentang itu. Kami berbicara tentang perbedaan antara bagaimana kehidupannya saat muda dibandingkan dengan kehidupan saya,” jelasnya.

Sementara itu, di sebuah rumah jompo di pinggiran Paris, Claire Biet yang berusia 80 tahun menikmati obrolan setengah jam dengan seorang siswa pada Senin (7/12).

“Kami berbicara tentang segalanya,” ujarnya. Keduanya mengobrol tentang buku Prancis populer Le Petit Prince hingga perjalanannya ke gurun Sahara.

“Dia berusaha keras. Dia mengoreksi dirinya sendiri ketika dia merasa dia mengatakan sesuatu yang kurang tepat. Dia selalu mencari cara yang lebih baik untuk mengekspresikan dirinya. Itu mengasyikkan,’ terang Claire.

Claire adalah satu dari lima penghuni di panti jompo Résidence du bord de Marne yang mengambil bagian dalam proyek tersebut.

“Tempat tinggal kami selalu terbuka untuk dunia luar. Selama penguncian kami terputus - tidak ada pertukaran dengan generasi yang lebih muda,” kata pekerja rumah pensiunan Christal Pethuis, yang telah membantu mengoordinasikan panggilan tersebut.

“Dulu kami punya tempat penitipan anak. Sekarang kami tidak melihat anak-anak lagi, dan penduduk merindukan mereka. Jadi saya langsung tertarik pada gagasan untuk mengatur percakapan dadakan dengan anak muda,” ujarnya.

Di panti jompo di Prancis, Marie-Josèphe Anduze-Faris, yang dipanggil dengan nama panggilan MiJo, juga ikut melakukan percakapan mingguan dengan dua siswa di Korea Selatan (Korsel) dan Uzbekistan.

MiJo, yang dijuluki sebagai “silver gamer” mengatakan dia memiliki kontak dengan anak muda di seluruh dunia melalui video game dan sudah mahir dengan teknologi.

Namun dengan mengajar siswa fasih bahasa Prancis telah membantunya merasa berguna saat melalui pandemi dan membuatnya menjalin persahabatan baru. Sembari bercanda, dia mengatakan jika percakapan ini memberinya kesempatan untuk melatih “bahasa gaul”-nya dan mempersiapkan siswa untuk percakapan nyata dengan teman-teman Prancis mereka nantinya.

“Saya suka tertawa jadi kami sering tertawa dan melalui tertawa saya pikir Anda bisa mengajar lebih baik dan Anda belajar lebih baik. Itu sangat penting,” katanya.

Bahkan salah satu siswa berencana untuk mengunjungi Prancis sesegera mungkin setelah pandemi virus corona berakhir dan keduanya berniat bertemu untuk sebuah video game.

Ternyata bukan hanya kakek dan nenek saja yang mendapat manfaat dari hubungan tersebut. Anak anak muda juga mendapatkan keuntungan. Salah satu orang pertama yang terlibat dalam proyek tersebut, yakni mahasiswa Inggris Isabel Cartwright mengakui hal itu.

Remaja berusia 20 tahun itu mengatakan pengalaman ini membuat dirinya merasa berharga selama penguncian dan memberi hal-hal yang sangat berkesan dan tak ternilai. Termasuk bisa melancarkan bahasa Prancisnya.

“Saya selalu berjuang karena kesusahan mempelajari Bahasa Prancis secara lisan. Jadi berbicara dengan Martine sangat fantastis. Dia terkadang berbicara dengan jelas dan sedikit lebih lambat untuk saya. Dia sangat sabar, dan menawarkan alternatif dari apa yang saya katakan tetapi dengan cara yang mudah dipahami. Luar biasa,” terangnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini