Kerusakan Lingkungan Akibat Pembangunan Gedung Capai Rekor Tertinggi

Susi Susanti, Koran SI · Jum'at 18 Desember 2020 06:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 17 18 2329577 kerusakan-lingkungan-akibat-pembangunan-gedung-capai-rekor-tertinggi-1G22tHzria.jpg Foto: Shutterstock

NEW YORK Kerusakan lingkungan yang disebabkan pembangunan dan pengoperasian gedung telah mencapai rekor tertinggi.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan pembangunan dan pengoperasian gedung menyumbang lebih dari sepertiga emisi karbon dioksida (CO2) global tahun lalu.

Emisi yang dihasilkan dari menjaga bangunan hunian dan non-hunian global tetap berjalan, serta pembangunan gedung baru, menghasilkan 38 persen dari total emisi CO2 terkait energi global.

Sementara itu, emisi yang semata-mata dari pengoperasian gedung mencapai level tertinggi yang pernah ada pada tahun 2019, hanya di bawah 10 gigaton, atau 28 persen dari total emisi CO2 terkait energi global.

Laporan dari Aliansi Global PBB untuk Bangunan dan Konstruksi (GlobalABC), mengatakan ada kebutuhan mendesak agar emisi CO2 dari sektor bangunan dikendalikan agar tetap sejalan dengan target perubahan iklim.

Secara keseluruhan, pada tahun lalu, sektor bangunan dan konstruksi menjauh dan tidak menuju tujuan Perjanjian Paris. Yaitu untuk menjaga kenaikan suhu rata-rata global jauh di bawah 2 derajat Celcius dibandingkan dengan tingkat pra-industri .

PBB mengatakan pemerintah secara global harus memprioritaskan pembangunan gedung rendah karbon setelah sektor tersebut dimulai kembali akibat “lockdown” virus corona.

(Baca juga: Kaisar Jepang Resmi Terima Surat Kepercayaan Dubes RI)

“Meningkatnya emisi di sektor bangunan dan konstruksi menekankan kebutuhan mendesak akan tiga strategi untuk secara agresif mengurangi permintaan energi di lingkungan binaan, dekarbonisasi sektor listrik dan menerapkan strategi material yang mengurangi emisi karbon siklus hidup,” terang Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB (UNEP), Inger Andersen, dikutip Daily Mail.

“Paket pemulihan hijau dapat memberikan percikan yang akan membuat kita bergerak cepat ke arah yang benar,” jelasnya.

“Memindahkan bangunan dan sektor konstruksi ke jalur rendah karbon akan memperlambat perubahan iklim dan memberikan manfaat pemulihan ekonomi yang kuat, jadi ini harus menjadi prioritas yang jelas bagi semua pemerintah,” ujarnya.

PBB mendasarkan angkanya pada database Badan Energi dan Neraca Energi Dunia Internasional, yang berisi statistik tentang keseimbangan energi negara-negara OECD dan non-OECD.

Sementara konsumsi energi bangunan global tetap stabil dari tahun ke tahun, emisi CO2 terkait energi dari pengoperasian bangunan saja naik pada tahun lalu menjadi 9,95 gigaton (9,95 miliar ton), atau 28 persen dari total emisi CO2 terkait energi global.

Peningkatan emisi sektor bangunan disebabkan oleh penggunaan batu bara, minyak dan gas alam secara terus menerus. Termasuk semua cara yang tidak ramah lingkungan untuk menghasilkan energi, seperti pemanas dan memasak.

Dengan masuknya emisi dari industri konstruksi bangunan, total emisi CO2 industri terkait energi global tercatat sebesar 38 persen, turun sedikit dari 39 persen pada 2018.

Proporsi yang sedikit lebih rendah dari emisi bangunan pada tahun 2019 dibandingkan dengan 2018 disebabkan oleh peningkatan transportasi dan emisi industri lainnya yang berhubungan dengan bangunan.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini