Kebijakan Timteng Biden Harus Berhadapan dengan Kebangkitan China

Agregasi VOA, · Sabtu 06 Februari 2021 06:45 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 06 18 2357460 kebijakan-timteng-biden-harus-berhadapan-dengan-kebangkitan-china-eeIX6Oj2MI.jpg Presiden AS Joe Biden dan Presiden China Xi Jinping

WASHINGTON – Pemerintahan Amerika Serikat (AS) saat ini dihadapkan pada peran China yang makin besar dan menjadikan China sebagai negara berpengaruh di kawasan itu.

Pemerintahan Presiden AS Joe Biden sedang berupaya memulihkan sejumlah kebijakan era mantan Presiden Barack Obama, mulai dari persetujuan nuklir dengan Iran hingga perundingan antara Israel-Palestina.

China telah menjadi mitra dagang negara-negara Arab terbesar pada semester pertama 2020. Nilai perdagangan antara kedua negara mencapai lebih dari USD115 miliar. China telah membina kemitraan strategis atau memiliki Kemitraan Strategis Komprehensif dengan 12 negara Arab.

Sebuah survei baru-baru ini Arab Barometer di kawasan itu mendapati bahwa China lebih disukai dibandingkan Amerika. Arab Barometer adalah sebuah unit peneliti di Princeton University, yang melakukan jajak pendapat di enam negara Timur Tengah, yaitu di Aljazair, Jordania, Lebanon, Libya, Maroko, dan Tunisia, guna mengetahui sikap mereka terhadap China dan Amerika.

(Baca juga: Alami Kelaparan, PBB Khawatirkan Kondisi Warga Sipil di Ethiopia)

“Hasil survei jelas menunjukkan publik Arab lebih menyukai China,” kata organisasi tersebut.

Pemerintah China telah menjadikan inisiatif “Belt and Road” atau proyek BRI-nya bagian penting dari pendekatannya di kawasan itu. Meskipun Amerika terus mengkritik rencana untuk memberi pinjaman kepada beberapa negara yang kesulitan membayarnya kembali, 18 negara telah bergabung dalam inisiatif itu, termasuk Israel, sekutu Amerika yang paling erat di kawasan.

(Baca juga: Kudeta Militer Myanmar, Dosen dan Mahasiswa Gelar Demonstrasi)

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini