Demonstrasi Anti-Kudeta Myanmar Masuki Hari Ketiga, Pekerja Lakukan Pemogokan Nasional

Rahman Asmardika, Okezone · Senin 08 Februari 2021 12:33 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 08 18 2358437 demonstrasi-anti-kudeta-myanmar-masuki-hari-ketiga-pekerja-lakukan-pemogokan-nasional-iHT50q3OTS.jpg Foto: Reuters.

YANGON - Ribuan orang bergabung dalam protes anti-kudeta di seluruh Myanmar pada Senin (8/2/2021), dengan para pekerja melakukan pemogokan nasional, menuntut pembebasan pemimpin yang digulingkan Aung San Suu Kyi dan kembalinya demokrasi.

Di ibu kota komersial, Yangon, lebih dari 1.000 orang berkumpul di sebuah taman pada Senin pagi, membantu memulai demonstrasi hari ketiga berturut-turut setelah kudeta pekan lalu.

"Ini hari kerja, tapi kami tidak akan bekerja bahkan jika gaji kami dipotong," kata seorang pengunjuk rasa, Hnin Thazin (28), seorang pekerja pabrik garmen, kepada AFP.

BACA JUGA: Upaya Kudeta Haiti Digagalkan, Setidaknya 23 Orang Ditangkap

Di kota terbesar kedua Myanmar, Mandalay, lebih dari seribu orang juga berkumpul hingga tengah pagi. Ratusan orang terlihat berkumpul di Ibu Kota Naypyidaw, mengendarai sepeda motor dan membunyikan klakson mobil, sementara aksi unjuk rasa besar juga dilaporkan di kota-kota lain.

Para pengunjuk rasa di persimpangan pusat kota besar Yangon meneriakkan slogan, memberi hormat tiga jari dan membawa plakat bertuliskan "Tolak kudeta militer" dan "Keadilan untuk Myanmar". Dimulai dengan beberapa ratus orang, kerumunan bertambah melebihi seribu, dan mobil yang lewat membunyikan klakson mereka sebagai solidaritas.

BACA JUGA: Ribuan Orang Berkumpul Hari Kedua Protes Jalanan di Myanmar

Beberapa kelompok yang lebih kecil berhenti dari protes utama dan menuju ke Pagoda Sule, tempat berkumpulnya protes besar sebelumnya terhadap pemerintahan militer yang berkuasa sebelumnya.

Tindakan Senin menyusul protes pada Minggu (7/2/2021) yang melibatkan puluhan ribu orang yang berdemonstrasi untuk menuntut pembebasan pemimpin yang digulingkan Aung San Suu Kyi dan tokoh-tokoh top lainnya dari partai Liga Nasional untuk Demokrasi miliknya.

Protes yang berkembang adalah pengingat tajam dari perjuangan panjang dan berdarah untuk demokrasi di negara yang dikuasai militer secara langsung selama lebih dari lima dekade sebelum melonggarkan cengkeramannya pada 2012. Pemerintahan Aung San Suu Kyi, yang memenangkan pemilihan umum pada tahun 2015, telah yang pertama dipimpin oleh warga sipil dalam beberapa dekade, meskipun kekuasaannya dibatasi oleh konstitusi yang dirancang militer.

Demonstran semakin bertambah banyak dalam beberapa hari terakhir. Demonstrasi tetap berjalan tanpa kekerasan, mendukung seruan dari partai Aung San Suu Kyi dan sekutunya untuk pembangkangan sipil.

Anggota parlemen terpilih dari partai Aung San Suu Kyi bertemu dalam pertemuan online Jumat (5/2/2021) lalu untuk menyatakan diri mereka sebagai satu-satunya perwakilan rakyat yang sah dan meminta pengakuan internasional sebagai pemerintah negara.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini