PIERRE Tendean, satu di antara pahlawan revolusi diketahui memiliki kekasih bernama Rukmini, gadis asal Medan berdarah Jawa. Meski beberapa rekannya mengetahui hubungan ini, Pierre terbilang cukup lihai dalam menyembunyikan hubungannya dengan Rukmini.
Kebanyakan orang mengetahui hubungan Pierre seusai peristiwa 30 September, hanya segelintir saja yang mengetahui detail hubungan mereka, dan orang-orang itu adalah orang-orang yang sudah dipercaya oleh Pierre, salah satunya istri Jenderal AH Nasution.
Kisah itu diceritakan di buku "Piere Tendean Sang Patriot, Kisah Seorang Pahlawan Revolusi".
Pengakuan yang mengejutkan dipaparkan oleh Soeseno. Ia mengklaim pernah diberi tahu oleh Pierre yang sudah mengikat Rukmini. Pierre bahkan sudah menentukan satu hari di bulan Desember 1965 sebagai hari berbahagia mereka.
Kenangan lain diceritakan oleh Yanti Nasution (puteri Jenderal Nasution) terhadap Pierre, bahwa hampir setiap malam Pierre menghabiskan waktu di dapur dengan ibunya, Johana Sunarti Nasution. Mereka bercakap-cakap tentang apa saja dalam bahasa Indonesia dengan logat Jawa Semarang yang kental.
"Pada salah satu percakapan tersebut, Pierre yang semakin serius berhubungan dengan kekasihnya, Rukmini, di Medan, mendapat nasihat tentang percintaan dari Bu Nas," kata Abie Besman, penulis dan editor buku Piere Tendean.
Baca Juga : Aksi Lettu Pierre Tendean Jadi Mata-Mata di Malaysia
Baca Juga : Awal Mula Perkenalan Pierre Tendean dengan Rukmini Sang Gadis Pujaan Hati
Dari berbagai sumber yang dikumpulkan oleh tim penulis, Pierre sering sekali membicarakan rencana peresmian pernikahannya dengan Rukmini. Dengan rasa keibuan, Bu Nas menasihati Pierre. ”Jangan terlalu memuja calon istrimu. Jangan sekali-kali mempunyai anggapan bahwa cintamu kepada calon istrimu tak dapat dipisahkan oleh siapa pun. Aku telah cukup melihat peristiwa-peristiwa yang sedih mengenai hal itu".
Ditambahkannya, "Sebagaimana halnya dengan istri Letkol Suryo Sumarno yang pernah kuceritakan kepadamu itu. Kedua suami istri ini sangat berbahagia karena merupakan pasangan yang cocok sekali. Mereka merasa tidak dapat dipisahkan antara satu dan lainnya, dan keduanya selalu mengagung-agungkan cinta mereka.
Namun, apa yang terjadi kemudian? Overste Suryo Sumarno telah dibunuh PKI dengan kejam dan biadab pada waktu bergerilya di daerah kompleks Merbabu-Merapi, sekitar tahun 1949".
"Kuharap hal itu tidak akan terjadi padamu Pierre. Oleh karena itu, wajarlah saja dalam bercinta. Jangan terlalu mengagung-agungkan kekasih di luar kewajaran hubungan cintamu itu. Dan Ibu juga percaya kamu demikian karena Ibu percaya akan segala ketabahanmu dan bakatmu yang bijaksana” begitu nasihat Bu Nas.
Hal itu disampaikan kepada Pierre dua hari sebelum nyawa Pierre direnggut oleh gerombolan Gerakan 30 September/ PKI. Seakan-akan menjadi firasat akan kepergian Pierre .
Hubungan Rukmini dan Pierre memang tidak pernah surut walau mereka terpisah jarak dan tempat. Sebelum Pierre dipindahkan ke Jakarta, keluarga Rukmini menganjurkan untuk diadakan semacam perjanjian atau ikatan di antara keduanya.
Ketika Pierre berada di Jakarta, hubungan mereka tetap terjaga hangat meski hanya melalui surat-menyurat.
(Angkasa Yudhistira)