“Sudut pandang berbeda maksud saya, mungkin berangkat dari pengalaman empirik saja ya. Jadi kalau kita bicara tentang perempuan dan kepemimpinan, perempuan dan keterwakilan, saya harus mengatakan bahwa keterwakilan dan kepemimpinannya dalam sebuah ruang, sebuah state, sebuah panggung. Tentu saja ruang atau panggung ini nggak boleh kosong tapi harus diisi,” tegas Netty.
Baca Juga: Pengamat: Perlu Wajah Baru di Parlemen, Perindo Punya Potensi Itu
Netty pun mengatakan bahwa perempuan juga harus mengisinya dengan sebuah atribut sosial, bukan hanya mengandalkan atribut sosial tanpa isi. “Kenapa? Karena kita nggak mungkin kita hanya bisa mengandalkan sebuah atribut sosial tanpa isi. Oleh karena itu, ketika kita bicara tentang bagaimana kepemimpinan ini maka mau nggak mau hari ini kita harus menjawabnya, mengisinya dengan konten nilai-nilai penting bagi seorang perempuan,” katanya.
Netty juga meyakini bahwa politik tidak sepenuhnya berurusan dalam kekuasaan, namun juga seperangkat etika untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. “Karena saya meyakini sepenuhnya bahwa politic is not only tools to power, but it is set to etic to serve. Bahwa politik bukan cuma sekedar jalan dalam “merebut sebuah kekuasaan” tapi politik adalah seperangkat etika untuk bisa mendekatkan pelayanan kepada masyarakat,” tegasnya.
(Sazili Mustofa)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.