Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Atraksi Domba Garut, Seni Ketangkasan Asal Garut yang Turun Temurun

Karina Asta Widara , Jurnalis-Jum'at, 19 Maret 2021 |13:46 WIB
Atraksi Domba Garut, Seni Ketangkasan Asal Garut yang Turun Temurun
Foto : Dok Dispar Prov Jabar
A
A
A

Dalam satu pertandingan biasanya terdapat tiga juri, wasit, dan bobotoh (sebutan penonton). Pertandingan juga diiringi lantunan musik yang dimainkan oleh para nayaga.

Domba dibagi menjadi tiga kelas yaitu A, B, dan C. C diperuntukan untuk bobot kurang dari 65kg, B diperuntukan untuk bobot 65kg – 75kg, dan A diperuntukan untuk bobot melebihi 75kg.

Dikutip dari halaman disparbud.jabarprov.go.id, sejarah domba Garut berawal dari masa pemerintahan Bupati Suryakanta Legawa sekitar tahun 1815-1829. Beliau sering berkunjung ke teman satu perguruannya bernama Haji Saleh yang memiliki banyak Domba.

Salah satu domba yang dipunyainya (si Lenjang), diminta oleh Bupati untuk dikawinkan dengan domba yang ada di Pendopo kabupten yang bernama si Dewa. Si Toblo, yang merupakan anak dari si Dewa dan si Lenjang beranak-pinak dan menghasilkan keturunan domba Garut sampai saat sekarang.

Domba Garut mempunyai karakteristik yang khas dari domba-domba yang ada di daerah luar Garut. Dilihat secara fisik, domba Garut memiliki berat sekitar 60-80 Kg, tanduk baplang, warna bulu yang kebanyakan putih dan telinga ngagiri (panjang).

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement