Pangeran Philip, Pria yang Dedikasikan Hidupnya agar Ratu Elizabeth II Bertakhta

Agregasi BBC Indonesia, · Jum'at 09 April 2021 22:47 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 09 18 2392296 pangeran-philip-pria-yang-dedikasikan-hidupnya-agar-ratu-elizabeth-ii-bertakhta-LTawxVVoJA.jpg Pangeran Philip dan Ratu Elizabeth (Foto: BBC)

'Cuma Amuba'

Philip kemudian menyalurkan sebagian eneginya dalam kehidupan sosial, dengan membentuk kelompok perkawanan pria yang bertemu setiap pekan di atas satu restoran di Soho, pusat kota London. Mereka makan siang bersama, berkunjung ke kelab malam, dan kadang difoto bersama kawan-kawannya yang glamor.

 Di lingkungan kerajaan, salah satu yang masih dimilikinya untuk menggunakan otoritasnya adalah untuk keluarganya sendiri, walau dia kalah juga dalam upaya untuk memberi nama anak-anaknya.

 Keputusan Ratu untuk meggunakan nama Windsor dan bukan nama keluarganya, Mountbatten, merupakan satu pukulan besar baginya.

 "Saya satu-satunya pria di negara ini yang tidak diizinkan memberi nama kepada anak-anaknya," keluhnya sekali waktu kepada teman-temannya. "Saya tak lebih dari sekedar amuba."

Sebagai orangtua, Pangeran Philip bisa tampak kasar dan tidak peka. Menurut Jonathan Dimbleby, yang menulis biografi Pangeran Charles, pada masa mudanya Charles sampai menangis karena dimarahi ayahnya di depan umum dan hubungan antara ayah dan putra sulungnya tidak selalu mudah.

Kaum Muda

Philip berkeras Pangeran Charles harus masuk ke sekolahnya yang dulu, Gordonstoun, karena yakin pendidikan di sana akan membantu putranya yang tampaknya berkarakter kurang bersemangat.

Sikap itu tampaknya mencerminkan masa kecilnya yang sulit, yang kadang kesepian. Sejak kecil dia sudah harus bisa mengandalkan diri sendiri sehingga kadang sulit untuk memahami bahwa orang lain tidak memiliki karakter yang kuat seperti dia

Dan salah satu perhatiannya adalah kesejahteraan kaum muda yang membuatnya pada tahun 1956 meluncurkan penghargaan Duke of Edinburgh, yang dianggap banyak pihak berhasil membina kaum muda.

Penghargaan itu mendorong sekitar enam juta kaum muda berusia 15 hingga 25 tahun—termasuk difabel—di seluruh dunia untuk menantang dirinya sendiri secara fisik, mental, dan emosi lewat berbagai kegiatan luar ruang yang dirancang untuk membina kerja sama dan penghargaan atas lingkungan.

"Jika Anda bisa membuat kaum muda berhasil dalam bidang apa pun," katanya kepada BBC, "maka sedikit keberhasilan akan menyebar ke yang lainnya."

Sepanjang hidupnya, dia terus mencurahkan perhatian untuk program itu, dengan menghadiri berbagai kegiatan dan juga ikut langsung mengelolanya.

Dukungan

Philip sebenarnya adalah seorang dengan karakter pemimpin namun perannya adalah selalu pada nomor dua sehingga kadang dia tampak tidak bisa duduk mudah dengan kepekaan atas posisinya.

"Saya hanya melakukan yang saya kira terbaik," tuturnya sekali waktu kepada BBC. "Saya tidak bisa tiba-tiba mengubah cara saya dalam melakukan sesuatu, saya tidak bsa mengubah ketertarikan saya atau cara saya bereaksi. Itu adalah gaya saya."

Namun dia dinilai berhasil menggunakan posisinya untuk memberi sumbangan besar bagi kehidupan di Inggris dan berperan dalam membantu kerajaan untuk menghadapi perubahan sosial selama bertahun-tahun.

Bagaimanapun pencapaian terbesarnya, tidak diragukan lagi, adalah kekuatan dan konsistensinya dalam mendukung Ratu sepanjang masa pemerintahan yang panjang.

Dia yakin pekerjaannya -seperti pernah dituturkannya kepada penulis biografinya- adalah 'untuk menjamin Ratu bisa bertakhta'.

Dalam suatu pidato memperingati ulang tahun emas perkawinan mereka, Ratu Elizabeth menyatakan: "Dia tidak mudah untuk menerima pujian. Namun dia benar-benar merupakan kekuatan dan pegangan saya selama bertahun-tahun."

(fkh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini