Jika saat 'hijrah', divisi Siliwangi mendapatkan perlindungan dan pengawalan dari Belanda , setelah perjanjian Renville yang harus menyerahkan Jawa Barat. Kini, mereka harus berpergian secara senyap. Apalagi, serangan Belanda bisa terjadi di mana saja.
Rombongan hijrah prajurit dan keluarga tentara itu diakhiri pada tahun 1950 dengan diakuinya kedaulatan RI.
Dalam buku" Long March Siliwangi" karya Himawan Soetanto diceritakan perjalanan panjang (long marc) tentara siliwangi ke kampung halamannya harus ditempuh dengan banyak pengorbanan. Bukan hanya kehilangan harta dan benda, darah dan nyawa harus dikorbankan.
Perjalanan pasukan penuh dengan bahaya dan rintangan tersebut terekam dalam ingatan Kolonel TB Simatupang. Dia tak sengaja ikut dalam Long March Siliwangi bersama Batalyon Daeng, di bawah pimpinan Letnan Kolonel Daan Yahya.
Simatupang, yang baru lolos dari penangkapan Belanda di Yogyakarta, melihat langsung kesulitan yang dialami Divisi Siliwangi. Medan yang dilalui benar-benar tidak masuk akal, tak jarang memakan korban jiwa.