Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Perempuan Hebat Bertaruh Nyawa di Tambang Emas

Khafid Mardiyansyah , Jurnalis-Jum'at, 23 April 2021 |00:15 WIB
Kisah Perempuan Hebat Bertaruh Nyawa di Tambang Emas
Aktivitas tambang emas di Poboya (Foto: Antara)
A
A
A

JAKARTA - Fitri Handayani, salah satu Pengurus Koperasi Tambang BCS Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) harus bertaruh nyawa berhadapan dengan bahan berbahaya merkuri setiap harinya.

Ia yang bekerja di tambang emas berskala kecil mengaku sudah enam tahun bekerja bertaruh nyawa menambang emas.

Selama ini, dampak yang sering dirasakan adalah gatal-gatal di badan. Ia pun mengaku khawatir dampak jangka panjang akibat merkuri tersebut.

Selain itu, narasumber lain dari Desa Logas, Kabupaten Kuantan Singingi, Sugiyanti juga menambahkan tentang dampak merkuri yang beliau rasakan. Ia mengaku ikan di sungai lokasi tempat mendulangnya jadi berkurang

"Padahal kami sehari-hari mengambil ikan untuk makan, air sungai juga menjadi keruh. Perasaan takut juga, ternyata pengaruhnya seram juga ya buat Kesehatan," jelasnya.

Perempuan yang bertaruh nyawa demi mendulang emas tak luput dari perhatian pemerintah. Dirjen Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Rosa Vivien Ratnawati mengatakan, saat ini jumlah perempuan yang terlibat di sektor Pertambangan Emas Skala Kecil hampir 30 persen dari total jumlah tenaga kerja di PESK yang ada di Indonesia.

“Fakta lainnya, perempuan yang ada di sektor PESK itu bukan hanya di sektor pelayanan tetapi juga terlibat sebagai pelaku usaha di lapangan. Dalam praktiknya, beban berat yang dipikul perempuan di sektor PESK sama beratnya dengan pekerja laki-laki. Karena itu, KLHK Bersama BPPT dan juga UNDP mendukung agar terciptanya kesetaraan gender di sektor Pertambangan Emas Skala Kecil,” kata Rosa dalam kata sambutan di acara webinar “Perempuan Berdaya, Kunci Kesejahteraan Komunitas Penambang”.

Rosa Vivien menambahkan, Indonesia sudah meratifikasi Konvensi Minamata yang salah satu tujuannya mengurangi pemakaian merkuri di sektor PESK. Namun, konvensi tersebut juga membahas tentang isu gender di sektor PESK.

“KLHK mendukung pengarusutamaan gender, strategi serta pemberdayaan perempuan di sektor PESK. Ini perlu agar semua lapisan masyarakat terlibat dalam proses pembangunan dan juga pemberdayaan. Hari ini adalah Hari Kartini dan saya ingin semangat Ibu Kartini dapat mendorong kemajuan kelompok perempuan yang tangguh, seperti ibu-ibu penambang disini” kata Rosa.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement