Tidak sama persis karena yang memberikan bukan sang ayah atau sang bunda. Melainkan, seorang tamu yang berkunjung pada suatu malam. Tamu dari bapaknya. Kemudian, sang tamu itu memanggil Kusno dan menyerahkannya bungkusan kecil berisi mercon.
“Ini,” kata sang pemberi mercon, sambil mengulurkan benda paling berarti dalam hidup Kusno saat itu.
"Kusno? Matanya membelalak… tangannya gemetar menerima bungkusan mercon itu. Mulutnya terkatup rapat. Bahkan nyaris lupa untuk mengucap kata terima kasih kepada sang budiman malam itu," paparnya.
Ia segera menghambur ke kamar, membuka bungkusan, memastikan bahwa itu benar-benar mercon! Ia pegang dan pandangi mercon itu dalam-dalam. Ia menarik nafas kegembiraan yang tiada tara.
(Erha Aprili Ramadhoni)