Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Cerita Miris Para Dalang saat Pandemi Covid-19, Jual Mobil hingga Tanah untuk Hidup

Agregasi Solopos , Jurnalis-Kamis, 03 Juni 2021 |23:06 WIB
 Cerita Miris Para Dalang saat Pandemi Covid-19, Jual Mobil hingga Tanah untuk Hidup
Foto: Illustrasi Okezone.com
A
A
A

KLATEN - Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung lebih dari setahun di Klaten memukul telak sebagian besar pekerja, dari berbagai sektor tak terkecuali dalang selaku pekerja seni dan hiburan.

Nasib para dalang hingga kini masih terpuruk akibat pandemi Covid-19. Selama 1,5 tahun terakhir, mereka nyaris tak mayang alias mementaskan wayang kulit. Aturan pentas secara virtual dinilai belum memberikan solusi bagi para seniman terutama dalang.

Baca juga:  Masyarakat Perlu Mewaspadai Gejala Long Covid-19

Pentas wayang kulit tak laku ketika ditawarkan secara virtual. Berbulan-bulan tak mendapatkan penghasilan membuat mereka mencari berbagai cara untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mobil, tanah, hingga sebagian alat pentas mereka jual demi memenuhi kebutuhan.

Ki Kusni Kesdik (51), seorang dalang asal Desa Duwet, Kecamatan Ngawen, Klaten, terdampak cukup parah dari pandemi Covid-19. Ia sampai menjual mobil hingga truk yang biasa digunakan untuk mengangkut alat pentas.

“Jual truk hitungannya rugi. Dari harga Rp100 juta saya jual Rp55 juta. Itu sudah saya jual 10 bulan lalu. Terpaksa saya lakukan untuk mencukupi kebutuhan,” kata Kusni saat ditemui wartawan di Pemkab Klaten, Kamis (3/6/2021).

Baca juga:  Punya sensitivitas 94,5%, Swab Antigen Elecsys Solusi Deteksi Covid-19

Sebelum ada pandemi Covid-19, Kusni bisa mementaskan wayang kulit ke berbagai daerah. Tak hanya Klaten, Kusni kerap mendapatkan permintaan tampil di luar Jawa seperti Kalimantan dan Sumatra.

15 Kali Pentas Sebulan Sebelum Pandemi

 

Dalam sebulan sebelum pandemi Covid-19, rata-rata dalang asal Ngawen, Klaten, itu bisa menerima permintaan 10-15 kali pentas wayang kulit.

Jumlah itu belum termasuk pada bulan-bulan tertentu ketika banyak warga yang menggelar kegiatan tradisi di daerah masing-masing dengan menampilkan wayang kulit. Misalnya saat Ruwah, Syawal, hingga Sura.

Namun, kondisinya berubah 180 derajat sejak ada pandemi. Seketika aktivitas Kusni mendalang macet total. Sebanyak 18 pentas wayang kulit yang sudah direncanakan batal.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement