Kisah Pilu Perempuan India Diasingkan ke Gubuk Menstruasi karena Dianggap Najis

Agregasi BBC Indonesia, · Minggu 06 Juni 2021 19:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 06 18 2421027 kisah-pilu-perempuan-india-diasingkan-ke-gubuk-menstruasi-karena-dianggap-najis-e3fxINtUq0.jpg Gubuk Menstruasi. (Foto: Dilip Barsagade/BBC News Indonesia)

Surekha Halami, 35 tahun, mengungkapkan selama musim panas, suhu begitu panas dan banyak nyamuk. Sedangkan di akhir tahun, dinginnya udara sangat menusuk tulang.

Selain itu, setiap hujan gubuk itu pasti bocor dan muncul genangan air di lantai. Terkadang tempat itu dihampiri anjing liar dan babi.

Sheetal Narote, 21 tahun, mengatakan saat harus tinggal sendiri di gubuk itu, dia pasti tidak bisa tidur karena takut. "Di dalam dan di luar gelap, saya ingin pulang tapi tidak punya pilihan."

Tetangganya yang berusia 45 tahun, Durpata Usendi, mengungkapkan 10 tahun lalu ada seorang perempuan berusia 21 tahun meninggal di gubuk itu setelah digigit ular.

"Kami terbangun saat lewat tengah malam saat dia lari dari gubuk sambil menangis dan menjerit. Para kerabatnya yang sesama peremuan mencoba menolong, dengan memberinya herbal dan obat-obat lokal.

"Para laki-laki, bahwa walau ada yang satu kerabat dengannya, cuma melihat dari jauh. Mereka tidak bisa menyentuhnya karena perempuan yang sedang haid dianggap najis. Saat racunnya sudah menjalar ke tubuh, dia hanya tergeletak kesakitan dan mati beberapa jam kemudian."

Melalui panggilan video, para perempuan menunjukkan pondok mereka yang baru - yang terbuat dari botol-botol plastik daur ulang yang dipenuhi pasir, dicat dengan warna merah cerah sedangkan tutup-tutup botol warna biru dan kuning menghiasi dinding.

Bangunan itu punya delapan tempat tidur dan "yang terpenting" - mereka sambil menunjuk - sudah ada kamar mandi dan pintu yang bisa mereka kunci.

Nicola Monterio dari lembaga KSWA mengungkapkan pondok baru itu berbiaya 650.000 rupee dan butuh dua setengah bulan untuk membangunnya. Lembaga itu juga telah membangun empat pondok serupa dan enam lagi akan didirikan pertengahan Juni ini di desa-desa sekitar.

Dilip Barsagad, presiden Sparsh, sebuah yayasan amal lokal yang telah terlibat dalam hal tersebut selama 15 tahun terakhir, mengatakan bahwa beberapa tahun lalu dia mengunjungi 223 gubuk menstruasi dan menemukan bahwa 98% "tidak bersih dan tidak aman."

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini