Israel Bebaskan Aktivis Pengusiran Paksa Setelah Ditangkap Selama Berjam-jam

Susi Susanti, Koran SI · Senin 07 Juni 2021 09:34 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 07 18 2421170 israel-bebaskan-aktivis-pengusiran-paksa-setelah-ditangkap-selama-berjam-jam-5G9oKE4D9K.jpg Aktivis pro-Palestina akhirnya dibebaskan (Foto: AFP)

Polisi telah mengkonfirmasi penangkapan wanita berusia 23 tahun karena diduga berpartisipasi dalam "gangguan publik" di Sheikh Jarrah

Mohammad al-Kurd, bersama saudara perempuannya, berada di belakang kampanye media sosial #SaveSheikhJarrah yang berusia tiga bulan melawan pengusiran warga Palestina dari rumah mereka.

Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina mengatakan 10 orang terluka ketika pasukan Israel menembakkan peluru karet dan granat kejut ke arah pengunjuk rasa di luar kantor polisi yang menyerukan pembebasan para aktivis.

Penangkapan para aktivis itu terjadi sehari setelah jurnalis Arab Al Jazeera Givara Budeiri ditangkap saat meliput demonstrasi di Sheikh Jarrah. Budeiri dibebaskan beberapa jam kemudian setelah penangkapannya menuai kecaman global.

Seperti diketahui, setengah dari rumah keluarga al-Kurd diambil alih oleh pemukim Israel pada tahun 2009. Mohammed sebelumnya mengatakan kepada Al Jazeera bahwa berbagi rumah mereka dengan “penghuni liar dengan aksen Brooklyn” adalah “tidak tertahankan, tidak dapat ditoleransi [dan] mengerikan”.

“Mereka hanya duduk di rumah kami, menyiksa kami, melecehkan kami, melakukan segala yang mereka bisa untuk tidak hanya memaksa kami meninggalkan bagian kedua dari rumah kami, tetapi juga melecehkan tetangga kami untuk meninggalkan rumah mereka sebagai bagian dari upaya untuk sepenuhnya memusnahkan kehadiran orang-orang Palestina dari Yerusalem,” ujar Mohammed, yang kala itu bersama Muna yang masih berusia 11 tahun saat para pemukim memaksa masuk.

Dalam beberapa bulan terakhir, lingkungan Sheikh Jarrah telah menyaksikan serangkaian aksi duduk oleh warga Palestina untuk memprotes perintah Israel agar mereka mengosongkan rumah mereka, yang mereka gambarkan sebagai kelanjutan dari pembersihan etnis yang dimulai dengan Nakba pada tahun 1948. Keluarga juga menghadapi pengusiran dari daerah Silwan di Yerusalem Timur.

Kelompok-kelompok hak asasi mengatakan hingga 1.000 warga Palestina di Sheikh Jarrah dan distrik Silwan di dekatnya akan dipindahkan secara paksa.

Israel menduduki Yerusalem Timur pada tahun 1967 dalam sebuah langkah yang tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional.

Di bawah hukum Israel, kelompok-kelompok Yahudi dapat mengklaim tanah milik orang Yahudi sebelum berdirinya Israel pada tahun 1948, bahkan jika keluarga Palestina telah tinggal di sana selama beberapa dekade.

Orang-orang Palestina yang nenek moyangnya menjadi pengungsi dalam perang 1948 tidak memiliki sarana untuk mendapatkan kembali rumah atau tanah mereka di Israel modern. Lebih dari 700.000 warga Palestina diusir dari rumah mereka pada tahun 1948 ketika Israel dinyatakan sebagai negara merdeka.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini