Share

Muslim Selandia Baru Ingin Hentikan Film Kontroversial Penembakan Masjid Christchurch

Susi Susanti, Koran SI · Selasa 15 Juni 2021 08:25 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 15 18 2425250 kelompok-muslim-selandia-baru-ingin-hentikan-film-kontroversial-tentang-penembakan-masjid-christchurch-1wrOgNBdeo.jpg Warga Selandia baru memberikan dukungan ke komunitas muslim (Foto: CNN)

SELANDIA BARU - Sebuah film yang akan berfokus pada Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern dan tanggapannya terhadap penembakan masjid Christchurch 2019 baru-baru ini kehilangan produser sebagai tanggapan atas kritik yang terus berlanjut dari Muslim Selandia Baru dan Ardern.

Sejak film berjudul "They Are Us” diumumkan minggu lalu, para kritikus mengecamnya karena mendramatisasi peristiwa traumatis penembakan yang terjadi lebih dari dua tahun lalu, dan tidak memusatkan pengalaman warga Muslim Christchurch dalam filmnya.

Fokus pada Ardern adalah sebagian alasan yang mengilhami Asosiasi Pemuda Islam Nasional Selandia Baru untuk memulai petisi untuk menghentikan produksi film tersebut.

Sejauh ini, lebih dari 63.000 orang telah menandatangani petisi, yang menyerukan Ardern untuk mengutuk film tersebut dan warga Selandia Baru di industri film untuk memboikot produksi. Asosiasi tersebut menulis dalam petisi bahwa film tersebut mengancam untuk "mencuci bersih kekerasan mengerikan yang dilakukan terhadap komunitas Muslim."

(Baca juga: NATO Peringatkan Ancaman Militer yang Ditimbulkan China)

Ardern menegaskan dalam sebuah pernyataan bahwa dia tidak terlibat dengan film tersebut.

"Ada banyak cerita dari 15 Maret yang bisa diceritakan, tapi saya tidak menganggap saya sebagai salah satunya," katanya dalam pernyataan yang diperoleh Hollywood Reporter.

Tanggapan Ardern terhadap penembakan massal dipuji secara internasional pada saat itu. Sikap tabah dan penolakannya untuk mengakui penembak, serta kunjungannya ke para korban dan keluarga yang mengenakan jilbab dan reformasi senjata yang cepat, membuat satu artikel CNN menyebutnya sebagai "wajah tragedi." Dia bahkan dianggap sebagai favorit untuk memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian pada 2019.

Melalui pernyataan yang diperoleh Hollywood Reporter, produser Philippa Campbell meninggalkan film itu setelah mendengarkan "kekhawatiran yang diangkat selama beberapa hari terakhir”.

(Baca juga: Tidak Berikan Burger Gratis ke Polisi, 19 Staf Restoran Cepat Saji Ditangkap)

Dia menulis jika dirinya setuju bahwa peristiwa penembakan itu "terlalu mentah untuk dibuat menjadi film dan dia "tidak ingin terlibat dengan proyek yang menyebabkan kesusahan seperti itu."

Baca Juga: Tidak Hanya Berantas Pencurian Ikan, Ini Bukti Nyata Ketegasan KKP

Seperti diketahui, 51 orang tewas dalam penembakan Maret 2019, yang terjadi saat Sholat Jumat di Masjid Al Noor dan Linwood Islamic Center. Pria bersenjata, seorang supremasi kulit putih, mengaku bersalah atas lebih dari 90 dakwaan, termasuk 51 dakwaan pembunuhan dan 40 dakwaan percobaan pembunuhan, pada Maret 2020.

Menurut Hollywood Reporter minggu lalu, dalam film tersebut, Rose Byrne akan berperan sebagai Ardern. Film tersebut digambarkan sebagai "kisah inspirasional tentang tanggapan pemimpin muda terhadap peristiwa tragis," memposisikan perdana menteri sebagai protagonis film tersebut.

"' They Are Us' bukan tentang serangan itu, tetapi respons terhadap serangan itu ... bagaimana tindakan kebencian yang belum pernah terjadi sebelumnya diatasi dengan curahan cinta dan dukungan," kata Andrew Niccol, penulis dan sutradara film itu dalam sebuah pernyataan kepada Hollywood Reporter.

Sondos Qur'aan, salah satu ketua asosiasi, mengatakan kepada afiliasi CNN Radio New Zealand (RNZ) bahwa setiap film berdasarkan penembakan harus fokus pada orang-orang Muslim yang mengalami kekerasan dan trauma secara langsung.

“Setiap cerita yang akan diceritakan tentang 15 Maret harus diceritakan melalui lensa komunitas Muslim dan menangkap pengalaman rasisme, diskriminasi dan Islamofobia yang dihadapi Muslim secara global,” kata Qur'aan kepada RNZ dalam sebuah wawancara pada Senin (14/6).

Sementara itu, penduduk Muslim Selandia Baru mengatakan kepada CNN satu tahun setelah penembakan bahwa Islamofobia yang meluas tetap menjadi perhatian, dan mereka sering merasa tidak aman di negara mereka bahkan setelah Ardern mengutuk rasisme dan memberlakukan reformasi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini