Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Lelahnya Nakes Tangani Pasien Covid-19, Tidur Pun Harus Curi-Curi Waktu

Antara , Jurnalis-Kamis, 01 Juli 2021 |22:39 WIB
Lelahnya Nakes Tangani Pasien Covid-19, Tidur Pun Harus Curi-Curi Waktu
Tenaga kesehatan harus curi waktu untuk bisa tidur sejenak beristirahat (Foto : Antara)
A
A
A

Curi tidur

Rasa capai dan lelah menangani pasien Covid-19, tak jarang membuat tubuh para nakes drop. Bila sudah begini, yang dilakukan tenaga medis adalah saling memberi kesempatan rekannya untuk beristirahat jika benar-benar tak mampu lagi bekerja.

Ya, tubuh memang harus istirahat jika rasa capai tak tertahankan. Hanya dengan istirahat stamina akan kembali pulih.

Menjadi tenaga medis memang harus bisa menjaga diri dan orang lain. Perawatan pasien Covid-19 terdapat standar operasional prosedur (SOP) yang cukup ketat.

Mereka harus mengenakan alat perlindungan diri (APD) berlapis. Ini membuat tubuh gerah dan berkeringat.

Selain itu, untuk mencegah penularan virus kepada orang lain, pasien yang datang dan diisolasi juga tidak boleh ditemani anggota keluarga, sehingga seluruh kebutuhan pasien dilayani oleh tenaga medis seperti menyuapi makan hingga membersihkan diri.

Jika Lelah dan mengantuk tak lagi bisa ditahan, para tenaga medis tersebut sering mencuri kesempatan untuk tidur di meja atau bersembunyi di dalam lemari besar IGD.

"Di IGD ada lemari besar, kami sembunyi di dalam. Nyuri-nyuri waktu untuk duduk atau sekedar bersandar. Kadang tak terasa sampai tertidur sebentar. Lelah, kami sangat lelah," ujar Gigih.

Di tengah tekanan fisik dan psikis yang sangat besar, tak jarang mereka masih menghadapi permintaan keluarga pasien yang bertentangan dengan aturan. Juga tudingan 'sengaja dicovidkan' dari keluarga pasien yang membuat semangat mereka turun.

Direktur RSUD Gambiran Kota Kediri dokter Fauzan Adima menjelaskan tentang stigma tersebut tidak bisa dipungkiri masih berkembang di masyarakat. Pemahaman yang berbeda tentang Covid 19 membuat masyarakat sering menyepelekan keberadaan virus berbahaya ini.

Namun, Fauzan yang juga Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri itu menegaskan bahwa pihaknya tetap berpegang teguh pada standar penanganan pasien Covid-19.

Hal itu dari hasil pemeriksaan pasien. Tim medis pun menggunakan tes usap untuk memeriksa apakah terpapar Covid-19 atau tidak.

"Kalau memang menunjukkan adanya virus dari hasil pemeriksaan laboratorium, ya kami sebut COVID-19. Kalau bukan ya, bukan. Kalau boleh berharap, kami ingin semua pasien yang datang ke rumah sakit negatif, tidak terpapar. Petugas sudah sangat kelelahan," kata dia.

Fauzan juga berharap kepada masyarakat untuk tidak mendiskreditkan tenaga medis jika pelayanan yang diberikan kurang berkenan. Namun RSUD Gambiran akan tetap menerima masukan dan saran jika disampaikan dengan cara yang sopan dan santun.

"Mereka punya keluarga, mereka juga berisiko. Belum tentu mereka kuat, mudah mudahan masyarakat memahami," harap Fauzan. Dia meminta agar masyarakat memahami situasi ini dan membantu dengan menerapkan protokol kesehatan.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement