Kisah Dokter Diserang Secara Brutal oleh Keluarga Pasien Covid-19

Agregasi BBC Indonesia, · Selasa 06 Juli 2021 13:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 06 18 2436271 kisah-dokter-diserang-secara-brutal-oleh-keluarga-pasien-covid-19-P9zHPKGxf6.jpg Dokter di India diserang secara brutal oleh keluarga pasien Covid-19 (Foto: BBC)

INDIA - Dokter Seuj Kumar Senapati masih ingat betul kejadian di sore hari itu, awal Juni lalu. Saat itu dia merasa hidupnya akan berakhir. Padahal ini kali pertama dia bekerja sebagai dokter dan baru hari kedua berpraktik di pusat layanan pasien Covid-19 di distrik Hojai, negara bagian Assam, India bagian timur laut.

Saat itu dia diminta memeriksa seorang pasien yang baru masuk pagi tadi. Saat diperiksa, pasien itu sudah tidak responsif.

Keluarga pasien langsung mengamuk begitu diberi tahu yang bersangkutan sudah meninggal. Tak lama kemudian, situasi tak terkendali.

Pihak keluarga pasien itu mulai melempar kursi-kursi yang ada di dalam klinik, memecahkan jendela, dan menganiaya staf.

Senapati lari mencari perlindungan, namun orang-orang lain malah ikut marah dengan keluarga itu dan menemukannya. Dokter itu jadi sasaran amukan.

(Baca juga: Meksiko Undi Rumah Milik Raja Narkoba "El Chapo" Seharga Rp2,6 Miliar)

Dalam rekaman video tampak sekelompok orang, sebagian besar laki-laki, menendang Senapati dan memukulinya dengan pispot.

Dia lalu diseret keluar dan terus dipukuli. Bersimbah darah dan pakaiannya dilucuti, Senapati berteriak kesakitan dan ketakutan.

"Saya saat itu merasa sudah tidak bakal selamat," ujarnya.

Sejak awal pandemi di India tahun lalu, beberapa dokter jadi target penyerangan keluarga para pasien Covid.

(Baca juga: Peneliti Khawatir Pandemi Covid-19 Picu Gangguan Kesehatan Mental)

Mereka rata-rata mengungkapkan kemarahan yang sama: kerabat mereka yang sakit itu tidak mendapat perawatan yang layak dan terlambat ditangani.

Para dokter tak pelak melancarkan protes dengan menuntut hukum yang lebih ketat, selain juga menghendaki penambahan tenaga kesehatan dan fasilitas yang lebih baik untuk membantu pekerjaan mereka yang sudah terlampau berat.

Pihak rumah sakit pun tidak siap. Saat dokter Senapati diserang, tidak ada yang bisa membantu karena staf yang lain pun dianiaya maupun mencari perlindungan.

Cuma ada seorang petugas keamanan di situ dan tidak bisa berbuat banyak menghadapi gerombolan penyerang.

"Baju saya disobek-sobek. Rantai emas saya dirampas dan ponsel serta kacamata saya pun dihancurkan. Setelah dua puluh menit kemudian, saya berhasil meloloskan diri," kata Senapati.

Dia langsung pergi ke kantor polisi setempat dan melaporkan kasus penyerangan.

Rekaman video penyerangan atas dokter itu, yang sudah menyebar di media sosial, langsung mengundang perhatian publik.

Pemerintah Assam berjanji akan mengusut secara tegas dan 36 orang, termasuk tiga orang di bawah umur, telah ditahan atas kasus penyerangan.

Kasus-kasus penyerangan atas tenaga kesehatan turut menjadi perhatian selama pandemi di India. Bahkan sebelum pandemi pun mereka dalam posisi rentan.

Namun tidak sedikit kasus yang tidak sampai diadukan maupun tidak diusut oleh polisi. Masalahnya, pihak teradu biasanya bisa bebas dengan jaminan dan kasusnya diselesaikan di luar pengadilan.

Awal tahun ini, keluarga seorang pasien Covid yang meninggal dalam gelombang kedua penularan di India merusak properti dan menganiaya staf Rumah Sakit Apollo di Ibu Kota Delhi.

Walau dikenal sebagai rumah sakit swasta terkemuka, pihak rumah sakit malah tidak melaporkan penyerang. Pihak pengelola rumah sakit jarang untuk terlibat dalam kasus itu sehingga membuat para stafnya kian rentan.

Menurut kalangan dokter, masalahnya adalah tidak ada peraturan yang spesifik melindungi mereka.

"Bagi kami hukum yang ada saat ini tidak efektif dan itu mengapa tidak bisa mencegah kasus penyerangan. Hukum yang kuat segera diperlukan sehingga masyarakat tahu akan ada konsekuensinya bila menyerang dokter," kata Dr Jayesh Lele, sekretaris jenderal Asosiasi Dokter India (IMA).

Beranggotakan lebih dari 330.000 dokter, IMA telah gencar mengkampanyekan adanya hukum yang bisa melindungi tenaga kesehatan dari serangan.

Namun, apakah hukum bisa mengatasi masalah itu?

"Kekerasan tersebut tidak direncanakan, tetapi lebih akibat ungkapan emosional yang disebabkan oleh kematian. Oleh karena itu, hukum tidak berfungsi sebagai pencegah," kata Shreya Shrivastava, yang telah memantau kasus-kasus kekerasan terhadap dokter.

Shrivastava terlibat tim riset di Vidhi Center for Legal Policy yang memperlajari pemberitaan di media massa soal 56 kasus penyerangan selama Januari 2018 hingga September 2019 untuk memahami apa yang menyebabkan kasus itu dan bagaimana bisa diatasi.

Menurut dia, pemerintah sebenarnya sudah mengeluarkan aturan yang menghukum penjara hingga selama tujuh tahun kepada penyerang tenaga kesehatan yang merawat pasien Covid. Namun itu tidak efektif.

Vikas Reddy, seorang dokter di Rumah Sakit Gandhi di Kota Hyderabad, diserang dengan besi dan kursi plastik Juni tahun lalu oleh sejumlah kerabat pasien yang meninggal karena Covid.

Reddy sudah melapor ke polisi, namun belum ada yang ditahan.

"Sulit untuk kembali bekerja," kata Reddy. ""Saya berada di bangsal perawatan medis akut yang sama, melihat pasien kritis. Pikiran atas serangan itu sering menghinggapi,” lanjutnya.

Dia mengaku telah menghabiskan banyak waktu untuk merenungi kejadian tersebut.

"Saya waktu itu berada dalam dilema," ujarnya. Dia ingin mencari tahu bagaimana menjelaskan diagnosisnya atau menyampaikan kabar duka itu secara cara lebih baik untuk mencegah terjadinya serangan serupa.

"Saya sadar bahwa kita harus menyempatkan waktu dengan pasien dan keluarganya untuk menjelaskan hal-hal yang bisa maupun yang tidak bisa kita lakukan,” terangnya.

“Saat mereka tidak setuju, mereka perlu memindahkan pasien ke rumah sakit lain. Namun kami tidak punya cukup waktu seperti itu. Saya punya 20-30 pasien setiap hari,” tambahnya.

Rasio dokter dan pasien di India termasuk yang terburuk di dunia. Pada 2018, cuma ada 20 dokter per 100.000 orang, menurut perkiraan Bank Dunia.

Jumlah dokter itu jauh lebih sedikit dari China (200), AS (260) atau Rusia (400).

Kini pandemi Covid membuat beban para dokter di India yang sangat terbatas itu kian berat

Riset Shrivastava mengungkapkan bahwa penyerangan atas tenaga kesehatan biasanya terjadi saat pasien berada di bangsal perawatan darurat atau ICU, pindah dari rumah sakit atau saat meninggal dunia. Dan peristiwa demikian kian sering muncul selama pandemi.

"Berada di bangsal Covid seperti berada di medan perang," kata Dr Lele.

Belum lagi masalah kepercayaan.

Sektor swasta, yang sebagian besar tidak diregulasi dan mahal, ternyata mencakup dua pertiga dari seluruh layanan kesehatan di India.

Shrivastava mengatakan bahwa tidak sedikit orang meninggal karena Covid walau sudah mengeluarkan uang untuk perawatan yang mahal dan ini memperlemah kepercayaan dalam sistem kesehatan.

Kabar-kabar di media soal kelalaian medis, yang jumlahnya melampaui berita soal beratnya perjuangan tenaga kesehatan, membuat publik jadi lebih curiga.

"Hal terbaik yang bisa kami lakukan adalah memberikan kemampuan terbaik kepada pasien," kata Reddy.

"Kami tidak bisa berharap setiap pasien [atau keluarganya] bersikap baik [kepada kami], namun cukup hargai kami sebagai tenaga profesional dan menghargai profesi kami ini dalam menyelamatkan jiwa,” tambahnya.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini