Dari sana, dia mengikuti kursus bahasa Inggris lainnya di Croydon College, sebelum memulai kualifikasi katering.
Cesar menginginkan pekerjaan - "Saya tidak bisa bergantung pada pemerintah, saya tidak bekerja seperti itu" - dan, melalui pusat pekerjaan, ia mengetahui lowongan di pub Richmal Crompton, bagian dari rantai perusahaan Wetherspoons, di dekat Bromley.
Pada Januari 2004, dia mulai bekerja di dapur Wetherspoons. "Saya merasa sangat disambut," katanya.
"Pub yang bagus, suasana yang menyenangkan, perusahaan yang menyenangkan,” jelasnya.
Tiga tahun kemudian dia pindah ke divisi pelayanan, kariernya menanjak, dan pada Januari 2014 menjadi manajer Brockley Barge Wetherspoons.
Putranya yang berusia 17 tahun, Joe, juga bekerja di pub (ketika tidak kuliah), begitu pula putrinya yang berusia 23 tahun, Duanie. Dia baru saja lulus di bidang politik dari Universitas Aberystwyth.
Pada akhir 2020, bos Wetherspoons Tim Martin mengunjungi pub dan sangat terkesan dengan cerita Cesar.
Martin meminta majalah perusahaannya untuk menampilkan sosok Cesar.
Untuk pertama kalinya, pelanggan Barge menyadari kisah hidup pria di balik bar itu.
Beberapa orang bahkan datang dari pub lain untuk memberi penghormatan.
"Mereka melihat majalah itu, mereka hanya ingin mengucapkan selamat, mengetahui dari mana saya berasal,” terangnya.
Kisah Cesar ditampilkan di Wetherspoons News, majalah perusahaan, awal tahun ini
Sejak tiba di Inggris, Cesar pernah kembali ke Angola sekali, pada tahun 2014, untuk mengurus dokumen.
"Itu adalah salah satu pengalaman lain yang juga paling menakutkan yang pernah saya alami," katanya.
"Penerbangannya baik-baik saja, tetapi bandaranya menakutkan - tentara di mana-mana, senjata di mana-mana. Ketika saya naik pesawat untuk kembali, saya sangat lega,” ujarnya.
Masa depannya ada di Inggris - dan dia bermaksud untuk terus bekerja keras di Wetherspoons untuk keluarga dan empat anaknya, yang bungsu masih berusia empat tahun.
"Ketika Anda masih kecil, jika Anda memiliki kehidupan yang sangat baik, Anda mungkin tidak merasakannya," katanya.
"Tetapi jika Anda memiliki kehidupan yang tidak baik - atau jika sesuatu terjadi, seperti ketika saya dipaksa menjadi tentara - Anda akan tahu tentang itu [beratnya hidup]. Saya tidak ingin melihat anak-anak saya menghadapi masalah yang sama. Saya ingin melakukan sesuatu yang lebih baik untuk mereka,” lanjutnya.
Setelah menceritakan pengalamannya, manajer Brockley Barge itu meninggalkan kantornya, berjalan menuruni tangga, dan kembali ke pub: mengobrol dengan para tamu; melambai tangan pada bayi-bayi dalam stroller; dan mengubur masa lalunya yang kelam dalam pancaran senyumnya.
(Susi Susanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.