JAKARTA – Kolonel (Purn) Wahyu Hardjono, mantan Komandan Batalion 328/Brigif 17 Kujang I Kostrad, ingat betul bagaimana kebiasaan makan Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo semasa masih berpangkat mayor.
Kisah ini dicuplik dalam buku Tentara Kok Mikir: Inspirasi Out of the Box Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo yang diluncurkan Rabu sore (22/8/2021).
Di Batalion 328, Agus dikenal paling lama menghabiskan makanan. Ibaratnya, teman-teman batalion sudah selesai makan dari tadi, piring Mayor Agus Widjojo masih penuh.
“Diam-diam saya amati caranya makan. Rupanya kalau dia makan sesuatu, dikunyah lama sekali. Kadang diselingi membaca koran atau buku,” kata Wahyu.
Baca juga: Agus Widjojo: Walau Ada Bencana Besar, Jangan Langsung Minta Tolong ke TNI
Selama di pendidikan, mereka baru mendapat informasi bahwa makanan bisa tercerna dengan baik kalau dikunyah 40 kali sebelum ditelan.
“Tampaknya beliau (Agus) melakukannya dengan tertib. Mengunyahnya lama sekali. Kami para anggota batalion kadang bisik-bisik. Mayor Agus makannya dikunyah 40 kali, tertib aturan,” kenang Wahyu terbahak.
Baca juga: Gubernur Lemhanas Agus Widjojo Luncurkan Buku Tentara Kok Mikir
Sementara tentara lain mungkin cuma 10 sampai 15 kali kunyah langsung ditelan. Kebiasaan itu barangkali yang membuat Agus Widjojo sampai sekarang tidak pernah gemuk. Dari dulu, badannya segitu saja karena mengunyah makanan sesuai aturan.
Kisah kehidupan Agus di Batalion 328 dibagikan dalam buku Tentara Kok Mikir yang ditulis oleh Bernarda Rurit dan disunting oleh Nugroho Dewanto.
Wahyu Hardjono juga menceritakan soal Batalion 328 dan 330 yang paling terkenal di antara batalion lain di Brigade Infanteri 17. Boleh dikatakan Brigif 17 itu disebut-sebut sebagai pasukan elite.
Komandan Brigade ini banyak yang menjadi perwira tinggi di TNI. Ada Letjen TNI Agus Widjojo, bekas KSAD Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo, mantan Wakasad Letjen TNI M. Munir, bekas Pangdam Wirabuana Mayjen TNI Arief Budi Sampurno, dan bekas Pangdam Pattimura Mayjen TNI I Made Yasa.
Baca juga: Gebyar Wawasan Kebangsaan, Ini Pesan Gubernur Lemhannas untuk Generasi Milenial
Buku ini juga membahas peristiwa ketika TNI tengah menjalani ujian sejarah di antara pilihan menjadi TNI Profesional atau menjalankan Dwifungsi ABRI. Juga disinggung kontroversi di sekitar wacana reformasi Komando Teritorial, serta keterlibatan Agus Widjojo sebagai anggota Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP) RI-Timor Leste yang menangani dugaan pelanggaran HAM Indonesia di Timor Timur.
Sejumlah teman seangkatan Agus Widjojo di AKABRI 1970 menghadiri peluncuran buku ini, antara lain Menteri Koordinator Maritim dan Investasi RI Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan dan Mantan Duta Besar RI untuk Filipina Letnan Jenderal TNI (Purn) Johny Josephus Lumintang.
Baca juga: Polisi Dihadang di Petamburan, Gubernur Lemhanas: Negara Tak Boleh Kalah!
Kemudian mantan Menteri Luar Negeri RI, Dr. Hassan Wirajuda, Mantan Wakil Gubernur Lemhannas RI Marsdya TNI (Purn) Bagus Puruhito, serta adik Agus Widjojo yaitu Nani Sutojo juga menghadiri acara tersebut.
Selain itu, hadir teman sebangku Agus semasa sekolah, Mantan Wakil Ketua Badan Intelijen Strategis TNI-AD Mayjen TNI (Purn) Tulus Sihombing. Adapun Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, Dokter Ryu Hassan, Alissa Wahid, Sejarawan Baskara Wardaya hadir secara virtual.
Peluncuran buku yang dilaksanakan pukul 16.15 sampai 18.30 WIB ini dimoderatori oleh Glory Ojong dengan menghadirkan narasumber aktivis Dimas Oky Nugroho dan Wapemred Harian Kompas Tri Agung Kristanto.
Baca juga: Benny Wenda Tak Punya Kewenangan Deklarasi Kemerdekaan Papua
(Fakhrizal Fakhri )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.