KERTANEGARA dikenal sebagai raja yang membawa kejayaan di Kerajaan Singasari. Namun kendati terkenal membawa Kerajaan Singasari ke kejayaan dengan wilayah yang luas ada sisi lain Raja Kertanegara.
Raja Kertanegara dikisahkan sering kali memecat para pejabat dan suka minum - minuman keras, sebagai bagian dari salah satu ritual agamanya. Hal ini dikisahkan dalam buku "Hitam Putih Ken Arok dari Kejayaan hingga Keruntuhan" karya Muhammad Syamsuddin.
Baca juga: Kisah Raja Kertanegara Taklukkan Melayu dan Bali Melalui Ekspedisi Pamalayu
Diceritakan bahwa di masa Kertanegara inilah terjadi penyatuan antara agama Hindu aliran Syiwa dengan agama Buddha aliran Tantrayana. Kertanegara pun lebih popular disebut sebagai sosok Bhatara Siwa Buda. Dikisahkan dalam naskah Negarakertagama Kertanegara telah menguasai semua ajaran agama Hindu dan Buddha.
Hal itu pula yang menyebabkan nama Kertanegara disebutkan dalam naskah - naskah kidung sebagai manusia dan raja yang bebas dari segala dosa. Hasilnya Kertanegara sering kali melakukan hal - hal yang dalam sudut pandang agama dikenal sebagai menyimpang. Bahkan Kertanegara konon kerap kali minum minuman keras yang dikenal sebagai salah satu ritual agamanya.
Baca juga: Sejarah Wisnuwardhana, Satu-satunya Raja Singasari yang Meninggal dengan Wajar
Nama Raja Kertanegara konon bahkan diabadikan sebagai patung Jina Mahakshobhya (Buddha), yang hingga sekarang patung itu masih ada di Taman Apsari, Surabaya. Patung ini selain sebagai upaya mengenang sosok Kertanegara, juga merupakan simbol penyatuan ajaran Syiwa - Buddha.
Patung tersebut sebelumnya berasal dari situs Kandang Gajak, Trowulan, yang pada tahun 1817 dipindahkan ke Surabaya oleh Residen Baron A. M. Th. de Salis. Patung tersebut oleh masyarakat sekitar disebut dengan sebutan Joko Dolog.
Tak hanya itu, konon Raja Kertanegara saat berkuasa kerap kali memecat pada pejabat yang berani menentang kebijakannya. Di antara pejabat Singasari yang pernah dipecat antara lain Mpu Raganata yang diturunkan dari jabatan rakryan patih menjadi ramadhyaksa. Orang - orang yang ditunjuk sebagai penggantinya adalah para pejabat yang dikenal sangat penurut.
Pengganti Mpu Raganata misalnya diisi oleh Kebo Anengah dan Panji Angragani. Sedangkan Arya Wiraraja yang terkenal sosok pembangkang akhirnya dimutasi jabatannya sebagai rakryan demung oleh Kertanegara. Arya Wiraraja dimutasi menjadi Bupati Sumenep, kelak Arya Wiraraja inilah yang akhirnya juga membantu Raden Wijaya untuk menumbangkan kekuasan Jayakatwang dari Kediri dan membangun Kerajaan Majapahit.
Bongkar pasang pejabat inilah yang menyebabkan banyak ketidakpuasan dari pejabat istana dan rakyat Singasari. Di antara yang merasa kecewa dengan perombakan tersebut adalah Kalana Bhayangkara. Akibat ketidakpuasannya, Bhayangkara pun melakukan pemberontakan pada tahun 1270. Dimana di dalam naskah Negarakertagama, Bhayangkara yang disebut sebagai Cayaraja, melakukan pemberontakan, tapi berhasil ditumpas oleh Raja Kertanegara.
Di Negarakertagama disebutkan pula terdapat pemberontakan Mahisa Rangkah pada tahun 1280. Mahisa Rangkah sendiri adalah pejabat Kerajaan Singasari yang begitu dibenci oleh rakyat Singasari. Kedua pemberontakan ini berhasil diredam oleh Raja Kertanegara.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.