Wanita Afghanistan Nekat Kembali Bekerja di Bandara Kabul untuk Menghidupi Keluarga

Vanessa Nathania, Okezone · Selasa 14 September 2021 15:57 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 14 18 2471201 wanita-afghanistan-nekat-kembali-bekerja-di-bandara-kabul-untuk-menghidupi-keluarga-uhkOtOfDTL.jpg Wanita kembali bekerja di Bandara Kabul (Foto: AFP

KABUL - Kurang dari sebulan setelah Taliban masuk ke ibu kota Afghanistan, Rabia Jamal seorang perempuan yang bekerja di bandara telah membuat keputusan yang sulit, dengan menantang kelompok garis keras dan memilih kembali bekerja.

Para Islamis mengatakan perempuan harus tinggal di rumah demi keamanan mereka sendiri karena risikonya terlalu nyata. Tetapi ibu tiga anak berusia 35 tahun itu merasa dia tidak punya banyak pilihan.

"Saya butuh uang untuk menghidupi keluarga saya," ujar Rabia, mengenakan setelan jas biru laut dan rias wajah.

"Saya merasakan ketegangan di rumah, Saya merasa sangat buruk,” terangnya kepada AFP.

"Sekarang aku merasa lebih baik,” tambahnya.

(Baca juga: Tikam 2 Orang di Toko Kosmetik, Pria Palestina Ditembak Tentara Israel)

Rabia mengatakan dia akan terus bekerja kecuali dia dipaksa untuk berhenti di bandara yang kembali beroperasi, setelah sebelumnya tidak dapat digunakan sesaat setelah penarikan pasukan AS.

"Mimpi saya adalah menjadi gadis terkaya di Afghanistan, dan saya merasa saya selalu yang paling beruntung," kata Rabia, yang telah bekerja sejak 2010 di terminal GAAC, sebuah perusahaan yang berbasis di UEA yang menyediakan penanganan darat dan keamanan.

"Aku akan melakukan apa yang aku suka sampai aku tidak beruntung lagi,” terangnya.

Hanya ada 12 wanita yang kembali bekerja, dari 80 wanita lebih yang bekerja di bandara sebelum Kabul jatuh ke tangan Taliban pada 15 Agustus lalu.

(Baca juga: Wanita Afghanistan Tidak Diizinkan Bekerja Bersama Laki-Laki)

Mereka adalah salah satu dari sedikit wanita di ibu kota yang diizinkan kembali bekerja. Taliban telah memberi tahu sebagian besar untuk tidak kembali bekerja sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Pada Sabtu (11/9), terlihat enam pekerja bandara wanita berdiri di pintu masuk utama, mengobrol dan tertawa sambil menunggu untuk memindai dan mencari penumpang wanita yang mengambil penerbangan domestik.

Adik Rabia, Qudsiya Jamal, 49 tahun, mengatakan kepada AFP bahwa pengambilalihan oleh Taliban telah "mengejutkannya".

"Saya sangat takut," kata ibu lima anak yang juga seorang tulang punggung keluarga.

"Keluarga saya mengkhawatirkan saya - mereka mengatakan kepada saya untuk tidak kembali - tetapi sekarang sayamerasa senang dan santai ... tidak ada masalah sejauh ini,” paparnya.

Sementara itu, rekan Rabia, yang menyebut namanya sebagai Zala, memimpikan sesuatu yang sama sekali berbeda.

Wanita berusia 30 tahun itu belajar bahasa Prancis di Kabul sebelum dia dipaksa berhenti dan tinggal di rumah selama tiga minggu setelah pengambilalihan.

"Selamat pagi, bawa saya ke Paris," katanya dalam bahasa Prancis yang patah-patah, saat kelima rekannya tertawa terbahak-bahak.

"Tapi tidak sekarang. Hari ini saya adalah salah satu wanita terakhir di bandara,” lanjutnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini