Pada Sabtu (11/9), terlihat enam pekerja bandara wanita berdiri di pintu masuk utama, mengobrol dan tertawa sambil menunggu untuk memindai dan mencari penumpang wanita yang mengambil penerbangan domestik.
Adik Rabia, Qudsiya Jamal, 49 tahun, mengatakan kepada AFP bahwa pengambilalihan oleh Taliban telah "mengejutkannya".
"Saya sangat takut," kata ibu lima anak yang juga seorang tulang punggung keluarga.
"Keluarga saya mengkhawatirkan saya - mereka mengatakan kepada saya untuk tidak kembali - tetapi sekarang sayamerasa senang dan santai ... tidak ada masalah sejauh ini,” paparnya.
Sementara itu, rekan Rabia, yang menyebut namanya sebagai Zala, memimpikan sesuatu yang sama sekali berbeda.
Wanita berusia 30 tahun itu belajar bahasa Prancis di Kabul sebelum dia dipaksa berhenti dan tinggal di rumah selama tiga minggu setelah pengambilalihan.
"Selamat pagi, bawa saya ke Paris," katanya dalam bahasa Prancis yang patah-patah, saat kelima rekannya tertawa terbahak-bahak.
"Tapi tidak sekarang. Hari ini saya adalah salah satu wanita terakhir di bandara,” lanjutnya.
(Susi Susanti)