Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Penerus Kerajaan Demak Tewas Ditikam Usai Salat Jumat

Avirista Midaada , Jurnalis-Jum'at, 17 September 2021 |07:17 WIB
Penerus Kerajaan Demak Tewas Ditikam Usai Salat Jumat
Foto: illustrasi cerita rakyat nusantara
A
A
A

SEBAGAI kerajaan Islam yang besar, Demak bukanlah kerajaan yang damai peperangan. Bagaimana tidak kerajaan tercatat pernah terjadi perang saudara di internal Kerajaan Demak.

Dikisahkan dalam buku "Hitam Putih Raja-Raja Jawa Intrik, Konspirasi Perebutan Harta, Tahta, dan Wanita" karya Sri Wintala Achmad, dijelaskan Demak saat itu dikuasai Arya Penangsang.

Baca juga:  Cita-Cita Kerajaan Demak Satukan Pulau Jawa Lewat Perkawinan Politik

Saat itu Arya Penangsang berhasil merebut kekuasaan Kerajaan Demak setelah berhasil membunuh Sunan Prawata melalui utusannya yakni Rangkut.

Setelah itu, Arya Penangsang juga sempat terjadi perselisihan dengan Raden Mukmin, hingga memunculkan perselisihan antara Pajang dan Jipang, bermula sejak Sultan Trenggana akan naik tahta sebagai sultan Demak.

 Baca juga: Peran Wali Songo di Kerajaan Demak, Hancurkan Pasukan Portugis hingga Mendirikan Masjid

Pada masa itu Raden Mukmin yang menghendaki ayahnya sebagai sultan Demak, memerintahkan Ki Surayata untuk membunuh Raden Kikin, ayah Arya Penangsang. Tujuannya agar Raden Kikin pesaing Sultan Trenggana, tidak menjadi raja.

Pada saat pulang salat Jumat, Raden Kikin yang baru sampai di jembatan dekat Masjid Demak ditikam oleh Ki Surayata hingga tewas. Oleh utusan Raden Mukmin, mayat Raden Kikin pun dibuang ke sungai. Kelak Raden Kikin dikenal dengan Pangeran Seda Lepen, atau pangeran yang meninggal di sungai.

Akibat pembunuhan berencana itu, Arya Penangsang, yang saat itu Adipati Jipang mengetahui siapa pembunuh ayahnya dari Sunan Kudus berniat membalas dendam. Arya Penangsang mencoba membalas dendam kepada Raden Mukmin yang telah membunuh ayahnya.

Arya Penangsang akhirnya mengutus Rangkut atau perjineman, untuk membunuh Raden Mukmin, Sultan Demak yang bergelar Sunan Prawata. Sebutan Sunan Prawata lantaran pusat pemerintahan Demak saat itu bukan lagi di Demak Bintara, melainkan di Gunung Prawata.

Berbekal keris Kiai Betok yang diberikan oleh Arya Penangsang, Rangkut pergi ke Gunung Prawata. Setiba di tujuan, Rangkut memasuki ruang peraduan Sunan Prawata. Saat itulah ia menikam keris Kiai Betok ke tubuh Sunan Prawata, yang tengah tertidur pulas. Keris itu pun juga membunuh sang istri yang juga tengah tertidur pulas.

Namun sebelum menghembuskan napas terakhir bersama sang istri, Sunan Prawata sempat memberikan perlawanan dengan keris Kiai Betok itu. Ia menarik keris itu dari tubuhnya dan menghujamkan kembali ke tubuh Rangkut. Alhasil suruhan Arya Penangsang pun turut tewas bersamaan tewasnya Sunan Prawata dan istrinya.

(Awaludin)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement