Share

Pria Ini Buta Usai Berjuang Lawan Serangan Ular Kobra dan Covid-19

Vanessa Nathania, Okezone · Jum'at 01 Oktober 2021 13:19 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 01 18 2479770 pria-ini-buta-usai-berjuang-lawan-serangan-ular-kobra-dan-covid-19-Mq0ih3xqOC.jpg Kisah pria yang buta akibat digigit ulang king cobra hitam dan terkena Covid-19 (Foto: The Sun)

INDIA - Seorang pria asal Inggris telah menceritakan saat-saat mengerikan saat dia dibiarkan koma setelah digigit dua kali oleh ular king cobra hitam.

Pekerja amal, Ian Jones, berjuang melawan serangan kedua Covid-19 dan juga serangan salah satu ular paling mematikan di dunia king cobra hitam di India utara tahun lalu.

Pria berusia 50 tahun itu menghabiskan tiga minggu di rumah sakit, berhasil melewati koma dan diberi anti-racun, oksigen, dan CPR untuk membantunya bertahan hidup.

(Baca juga: Ditabrak Mobil, Remaja Ini Koma Hampir Setahun, Kena Covid-19 Sebanyak Dua Kali)

Dokter memberi tahu ayah dua anak itu bahwa dia sangat beruntung bisa selamat dari gigitan ganda king kobra - yang memiliki racun yang cukup untuk membunuh 20 pria dalam satu gigitan.

Meskipun Ian sekarang buta secara permanen dari efek gigitan itu, dia perlahan-lahan mendapatkan kembali perasaan dan gerakan penuh di kakinya.

(Baca juga: Pria yang Mengejek Vaksin Covid-19 Meninggal Dunia Usai Terpapar Virus)

Terlepas dari efek yang menghancurkan dari serangan yang mengerikan itu, Ian akan kembali ke India pada pekan ini untuk melanjutkan pekerjaan amalnya di Sabirian, yang didirikan pada 2017.

Ia menceritakan dia sedang bekerja di kantor pusat organisasi di desa Narnadi, India, ketika dia tertular Covid-10 untuk kedua kalinya pada November tahun lalu.

Dia kemudian digigit ular pertama yang pernah ditemuinya selama empat tahun berkunjung dan bekerja di negara tersebut.

Baca Juga: Aksi Nyata 50 Tahun Hidupkan Inspirasi, Indomie Fasilitasi Perbaikan Sekolah untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

"Saya berada di kamar saya lima hari setelah dites positif ketika saya menyadari bahwa saya belum makan selama empat atau lima hari, jadi saya pergi ke dapur dan memasukkan makanan siap saji ke dalam microwave,” terangnya.

"Saya harus duduk di sofa karena kepala saya mulai berputar, dan anjing adopsi kami, Rocky, datang menggonggong dengan gonggongan amat ketakutan yang belum pernah saya dengar sebelumnya,” lanjutnya.

"Saya membungkuk untuk membelainya tetapi tidak menyadari ada seekor ular kobra yang meringkuk di bawah sofa. Ular itu menyerang saya dua kali tepat di punggung tangan saya,” ujarnya.

"Gigitannya tidak separah yang Anda kira pada awalnya; rasa sakitnya sementara seperti ketika Anda menginjak paku - tetapi kemudian racunnya mulai bekerja dengan cepat,” ungkapnya.

"Begitu saya menyadari itu adalah ular kobra, saya bangkit dari sofa, karena Rocky telah menempatkan dirinya di antara saya dan ular itu,” lanjutnya.

"Kobra itu tegak dan melakukan 'tariannya - siap menyerang lagi,” terangnya.

"Rasa sakit itu menyiksa lengan saya, dan saya telah memasang turniket di atasnya untuk menghentikan penyebaran racun,” ujarnya.

Ian pun dilarikan ke rumah sakit desa setempat, ketika rekan-rekannya dipaksa untuk membeli anti-bisa yang benar dari toko di luar rumah sakit.

Dia menghabiskan hari-hari berikutnya berkutat dalam kondisi koma di tiga rumah sakit, dan juga diberikan CPR beberapa kali untuk memulai kerja kembali jantungnya.

Delapan hari kemudian dia dipindahkan dari bangsal Covid -19 ke perawatan intensif di rumah sakit terbesar di Jaipur - ibu kota negara bagian.

Di bangsal baru, Ian berbicara kepada keluarganya untuk pertama kalinya sejak gigitan - termasuk kedua putranya Michael dan Seb, yang berusia dua puluhan.

"Satu gigitan dari king cobra hitam dapat membunuh 20 pria atau gajah dewasa - dan saya telah digigit dua kali,” ujarnya.

"Ular itu menyerangku dan seketika pergi, dokter mengatakan kepada saya bahwa saya adalah pria yang sangat beruntung,” terangnya.

Penglihatan Ian mulai memburuk dan dia kehilangan rasa di kakinya setelah dia dipindahkan ke perawatan intensif.

"Setelah saya meninggalkan bangsal Covid-29, penglihatan saya mulai hilang, tetapi para dokter tidak yakin apakah karena gigitan atau obat yang saya gunakan atau apa yang menyebabkannya,” terangnya.

"Saya juga kesulitan bernapas, tidak bisa menggunakan kaki saya dan tidak bisa melihat dengan baik,” lanjutnya.

"Saya ingat para dokter bertanya kepada saya apa yang bisa saya lihat ... Saya meminta mereka untuk menyalakan lampu sehingga saya bisa melihat di ruangan yang lebih terang - tetapi lampu sudah menyala, hanya gelap untuk saya,” jelasnya.

Setelah tiga minggu di rumah sakit, Ian, yang tinggal di desa Niton di Isle of Wight, berhasil mengatur penerbangan pulang untuk bertemu kembali dengan keluarganya.

Dan terlepas dari pengalaman yang mengerikan dan mengubah hidupnya, Ian akan kembali ke India pada pekan ini untuk melanjutkan pekerjaan pentingnya dengan Sabirian.

"Saya terbang kembali pada hari Minggu - visa saya baru saja tiba pagi ini. Banyak orang bergantung pada kami di luar sana, dan kami harus kembali bekerja lagi,” terangnya.

"Keluarga saya khawatir saya akan kembali, tetapi mereka mengerti apa yang kami coba capai di luar sana,” ujarnya.

"Aku selalu akan kembali,” tambahnya.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini