Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Benny Moerdani di Balik Pelarian Presiden Kamboja dari Kejaran Khmer Merah

Alvin Agung Sanjaya , Jurnalis-Senin, 13 Desember 2021 |06:10 WIB
Benny Moerdani di Balik Pelarian Presiden Kamboja dari Kejaran Khmer Merah
Benny Moerdani. (Foto: Unkris)
A
A
A

JAKARTA - Presiden Soeharto kala itu memerintahkan intelijen kepercayaannya, Benny Moerdani untuk melaksanakan misi pelarian Presiden Kamboja Lon Nol.

Benny Moerdani sampai menyewa pesawat Garuda untuk memboyong Lon Nol ke Indonesia agar selamat dari kubu komunis yang memburunya.

Tahun 1975 adalah masa genting bagi Kamboja. Pemberontakan kubu komunis Khmer Merah yang dipimpin oleh Saloth Sar menghebat, membuat pasukan Lon Nol terpukul. Pembantaian terjadi hampir di seluruh Kamboja, dan Lon Nol termasuk target pembantaian tersebut.

Baca juga: Kala Benny Moerdani Dikritik soal Penembakan Misterius Era 1980-an


Baca juga: Kisah LB Moerdani Ternyata Pernah Ikuti Pendidikan Intelijen di Amerika

Amerika Serikat yang mendukung Lon Nol, bermaksud melarikan sekutunya itu ke tempat yang aman.

Sebagai sekutu Amerika Serikat, Indonesia bersedia menyembunyikan Lon Nol dengan dalih kunjungan diplomatik. Soeharto bersedia membantu Amerika Serikat dengan menerima kedatangan Lon Nol di Bali.

Pada 1 April 1975, di bawah ancaman kubu komunis , Lon Nol berangkat menuju Ngurah Rai, Bali. Benny Moerdani sampai menyewa pesawat Garuda untuk memberangkatkan Lon Nol. Demikian dinukil dari buku Benny Moerdani yang Belum Terungkap.

Rombongan Lon Nol bertemu dengan Soeharto di Bali pada 5 April 1975. Dalam pertemuan tersebut, Soeharto mendukung pemerintah Lon Nol tapi tak bersedia jadi penengah antara kubu komunis dengan Lon Nol.

Di samping itu, pendiri CSIS Jusuf Wanandi mengatakan bahwa Indonesia secara rahasia juga mengirim senjata AK-47 kepada Lon Nol melalui Amerika Serikat. Sebagai gantinya, Indonesia mendapat ribuan senjata M-16 buatan Amerika Serikat.

Dalam buku berjudul 'United States and Cambodia, 1969-2000: A Troubled Relationship', Kenton Clymer menulis setidaknya lima kali Indonesia mengirimkan senjata.

Pengiriman kelima terjadi pada November 1970, Clymer mencatat Indonesia mengirim 1770 senapan AK-47 pada bulan itu. Dan sebagai imbalannya, Indonesia mendapat 5880 senapan M-16 dan 54 ribu amunisi. (wdi)

(Awaludin)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement