Kisah Perang Khandaq, 3.000 Prajurit Muslim Berhasil Kalahkan 10.000 Pasukan Sekutu

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 14 Januari 2022 12:28 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 14 18 2532133 kisah-perang-khandaq-3-000-prajurit-muslim-berhasil-kalahkan-10-000-pasukan-sekutu-n8z9EiL68f.jpg Lukisan Perang Khandaq (Foto: Anne SK Brown Military Collection/ Brown Digital Repository)

MADINAH – Salah satu perang besar dalam sejarah Islam adalah Perang Khandaq. Secara harfiah perang ini berasal dari istilah khandaq yang berarti parit yang digali oleh umat Islam sebagai persiapan untuk pertempuran.

Kata Khandaq dalah bentuk bahasa Arab dari bahasa Persia "kandak", yang berarti "itu yang telah digali.” Pertempuran ini juga disebut sebagai Pertempuran Konfederasi yang menunjukkan konfederasi Arab pagan dan Arab Yahudi terhadap Islam.

Perang ini terbilang besar karena melibatkan kaum Muslim di Madinah dengan pasukan gabungan sekutu kaum Quraisy dan Yahudi. Perang terjadi pada pada 5 Hijriah atau 627 Masehi.

Perang ini melibatkan 3.000 prajurit Muslim melawan 10.000 pasukan gabungan. Awal mula perang ini disebut-sebut terjadi saat Muslim di Madinah membuat parit sebagai strategi berperang untuk menghindari serbuan langsung dari pasukan Al-Ahzab Quraisy dan bani Nadir. Mereka pun menggali parit di bagian utara Madinah selama 9 – 10 hari.

Baca juga: Perang Khandaq, Begini Strategi dan Doa Rasulullah SAW Saat Menghadapi Pasukan Quraisy

Dikutip Wikipedia, strategi pembuatan parit di sela-sela daerah yang tidak terlindungi oleh pegunungan sebagai tempat perlindungan adalah salah satu strategi dari sahabat Nabi Muhammad SAW yang bernama Salman al-Farisi yang berasal dari Persia.

Karena itu, perang ini disebut pertempuran parit/khandaq. Strategi yang berasal dari Persia ini dilakukan apabila mereka terkepung atau takut dengan keberadaan pasukan berkuda.

Baca juga: Mengenal Perang Khandaq, Peristiwa Besar Islam pada 31 Maret   

Kelompok Muslim Madinah dipimpin Nabi Muhammad SAW, sedangkan pasukan gabungan dipimpin Abu Sufyan.

Sementara itu, pasukan gabungan dilaporkan membuat kemah di bagian utara Madinah, karena di tempat itu adalah tempat yang paling tepat untuk melakukan perang.

Pengepungan Madinah yang dipelopori oleh pasukan gabungan antara kaum Quraisy Makkah dan Yahudi bani Nadir (al-ahzaab) akhirnya pecah pada 31 Maret, 627 M dan berakhir setelah 27 hari.

Orang-Orang Yahudi yang diusir lalu ditempatkan di Khaibar, sebuah wilayah di luar Kota Madinah. Hal itu membuat dua suku utama, yaitu Bani Nadhir dan Bani Wail kecewa dan marah.

Pengepungan ini juga menjadi seolah-olah "pertempuran kecerdasan", yang menjadi ajang adu taktik Muslim mengatasi lawan-lawan mereka.

Upaya konfederasi untuk mengalahkan kaum Muslim berakhir gagal, dan kekuatan Islam menang menjadi berpengaruh di wilayah tersebut. Akibatnya, tentara Muslim mengepung sekitar Banu Qurayza, yang mengarah ke penyerahan tanpa syarat.

Kekalahan itu menyebabkan Makkah kehilangan sektor perdagangan mereka dan kehormatan harga diri mereka.

Perang semakin memanas ketika kaum Yahudi Bani Qurayzhah mengkhianati kesepakatan yang telah disetujui sebelumnya untuk mempertahankan Kota Madinah.

Setelah terjadi pengepungan selama satu bulan penuh, ternyata Nua'im bin Mas'ud al-Asyja'i yang telah memeluk Islam tanpa sepengetahuan pasukan gabungan juga ikut berperang. Dia memiliki keahlian memecah belah pasukan gabungan.

Dikisahkan dalam perang itu Allah SWT mengirimkan angin yang memporakporandakan kemah pasukan gabungan, memecahkan periuk-periuk, dan memadamkan api. Hal ini sontak membuat pasukan gabungan kalah dan kembali ke rumah. Mereka gagal menaklukkan kota Madinah. Setelah peperangan itu, Rasulullah dan para sahabat berangkat menuju kediaman bani quraizah untuk mengadili mereka.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini