BARITO TIMUR – Pandemi Covid-19 di Tanah Air masih belum usai. Namun muncul kasus baru yaitu African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika di Kabupaten Barito Timur, Kalimatan Tengah. Akibatnya, ratusan ekor babi mati karena demam babi Afrika.
(Baca juga: Tangani Wabah Demam Babi Afrika di Sumut, Kementan Kerahkan Tim Gerak Cepat)
Sejumlah desa yang mengalami kasus ASF yakni Desa Lalap, Kotam dan Ampari Bura di Kecamatan Patangkep Tutui dan Desa Gumpa dan Desa Matarah di Kecamatan Dusun Timur.
Camat Patangkep Tutui, Nina Marissa membenarkan adanya kasus ASF di beberapa desa, namun hingga kini dia belum mendapatkan laporan dari pemerintah desa jumlah kematian babi.
"Belum ada laporan masuk ke kami, mungkin ke dinas terkait," jawabnya saat dihubungi MNC Portal, Jumat (11/3/2022).
(Baca juga: Pandemi Covid-19 Belum Kelar, Muncul Virus Demam Babi Afrika di Negara Ini)
Sementara itu, Kades Gumpa, Salakman yang dihubungi mengungkapkan kasus kematian babi di desanya mulai muncul sejak dua minggu yang lalu. Kematian tersebut terus meningkat hingga mencapai sekitar 200 ekor.
"Biasanya tiga hari demam langsung mati. Sampai saat ini belum ada penanganan, kalau babi mati biasanya warga langsung kubur," ungkapnya.
Babi yang mati di Desa Gumpa rata-rata sudah besar, karena itu dia memperkirakan total kerugian akibat kematian babi mencapai ratusan juta rupiah.
"Kita rata-rata saja per ekor babi yang mati beratnya 30 kilogram, dikalikan 200 ekor, kemudian dikalikan harga daging babi Rp45 ribu per kilo gram.
Dokter Hewan Akhmad Rizaldi menambahkan tanda klinis babi yang terpapar ASF yakni kemerahan di bagian perut, dada dan scrotum. Selain itu, babi juga mengalami diare berdarah, kemerahan pada telinga, demam 41 derajat celsius, konjungtivitis, anoreksia, ataksia, paresis dan kejang.
Kadang babi juga mengalami muntah, diare atau sembelit, pendarahan kulit sianosis yang menyebabkan babi menjadi tertekan, telentang, kesulitan bernapas dan tidak mau makan.
Penyakit ini diketahui tidak berbahaya bagi manusia dan bukan masalah kesehatan masyarakat. ASF bukan penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia (zoonosis),"ujarnya
Virus ASF juga sangat tahan hidup di cuaca dingin maupun panas, serta relatif lebih tahan terhadap disinfektan. Virus ini dapat menyebar melalui kontak langsung serangga, pakaian, peralatan peternakan, kendaraan dan pakan yang terkontaminasi seperti limbah bekas catering yang mengandung daging babi.
Hingga saat ini belum ditemukan vaksin untuk pencegahan ASF, karena itu peternak harus mewaspadai penyebaran ASF. Penyakit ini penularannya cepat dan dapat menyebabkan kematian pada babi hingga 100 persen, sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat besar.
Data terakhir yang dirilis Dinas Perikanan dan Peternakan Barito Timur pada 16 Februari 2022, jumlah kematian babi telah mencapai 1.528 ekor. Rinciannya, dari Kecamatan Awang 1.147 ekor, Dusun Timur 167 ekor dan Kecamatan Benua Lima 214 ekor.
(Fahmi Firdaus )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.