PADA suatu hari, Sabda Palon dan Naya Genggong merupakan penasihat Kraton Majapahit sekaligus sebagai abdi kinasih dan penasihat spiritual Sang Prabu Brawijaya V mendapatkan suatu wisik atau wahyu yang tidak mengenakkan. Ini adalah menyangkut 'mimpi buruk' yang sama sekali tidak mereka inginkan, yakni kehancuran Kerajaan Majapahit.
Sabda Palon melaporkan wisik yang ia terima bahwa istana Majapahit akan terbakar api yang menyala-nyala hingga habis ludes tak tersisa sedikit pun. Sementara itu, Naya Genggong juga melaporkan bahwa istana Majapahit akan diterjang badai besar.
Sedih hati Sang Prabu Kertabhumi begitu mendengarkan penuturan dua orang abdinya.
"Jika benar apa yang kalian lihat dalam semadi kalian, kita mesti memperbanyak prihatin dan tirakat! Memang hal itu merupakan suatu pertanda buruk terhadap kejayaan Majapahit!" ujar Prabu Brawijaya V menanggapi penuturan dua orang abdinya.
Kemudian Prabu Brawijaya V nampak berbincang serius dengan dua orang abdinya itu, tiba-tiba Sang Baginda Raja teringat terhadap musim paceklik yang belum lama terjadi di Majapahit yang berbarengan dengan kebobrokan moral yang dilakukan oleh para nayaka praja serta putra-putri kaum bangsawan Majapahit. Untungnya keadaan itu dapat diatasi, terutama setelah kedatangan Raden Rahmat ( Sunan Ampel).
"O...Dewata Agung, apakah musim paceklik seperti yang pernah terjadi di Majapahit beberapa waktu lalu akan terulang kembali? Atau, apakah istana Majapahit akan digerogoti kebobrokan moral dari para punggawa atau nayaka praja-nya sendiri?" gumam Prabu Brawijaya V.
Prabu Brawijaya V sendiri yang juga gemar melakukan tapa brata atau semadi, tentu dapat menerima wisik yang dialami oleh Sabda Palon dan Naya Genggong, Apalagi, keduanya adalah dua orang penasihat Kraton Majapahit yang tidak diragukan lagi kesetiaannya.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan agar istana Majapahit tetap aman tenteram dan terkendali?" kata Sang Baginda Raja kemudian.
Sabda Palon dan Naya Genggong nampak berpikir serius. Keduanya merenung dalam-dalam terhadap pertanyaan Rajanya.
"Sinuwun," kata Sabda Palon, Sabda mengatakan, Gusti Prabu harus memperbanyak tirakat (menahan hawa nafsu) dengan melakukan semadi.
“Selain itu, Gusti Prabu hendaknya memantau daerah kekuasaan Majapahit; yakni bagaimana kesetiaan mereka terhadap Majapahit. Kalau Gusti Prabu hanya memfokuskan keadaan di lingkungan Majapahit saja, niscaya Gusti Prabu tidak mengetahui bagaimana keadaan daerah kekuasaan Majapahit di luar sana,” ucap Sabda Palon.
"Kalau hamba melihatnya berbeda, Sinuwun," kata Naya Genggong sembari menghaturkan sembah bekti, "Bahwa kita semua harus memperbanyak tirakat dan prihatin memang benar. Sudah semestinya kalau kita memperbanyak semadi untuk penyembahan kepada Gusti Kang Murbeng Dumadi,” tutur Naya Genggong.
Naya Genggong juga percaya, perkara hancur atau jayanya suatu kerajaan, hal itu sebenarnya semata-mata kehendak Sang Hyang Widhi.
“Bagaimanapun manusia akan mengupayakan secara sungguh-sungguh, tetapi jika Sang Hyang Widhi sudah menghendaki kehancuran suatu negeri, niscaya tak ada seorang manusia pun yang dapat mengatasinya. Demikian halnya dengan Majapahit. Jika Sang Hyang Widhi sudah menghendaki kehancurannya, tentu kita tidak bisa mengatasinya," ucap Naya Genggong.
"Iya Paman Naya Genggong, tetapi bukankah kita harus tetap berusaha?" Prabu Brawijaya V menanggapi.
"O...iya Gusti Prabu!" jawab Naya Genggong, "Bagaimanapun kita harus tetap bekerja keras dengan diiringi memperbanyak semadi. Yang hamba maksudkan tadi, yakni bagaimanapun usaha manusia, tetapi jika Sang Hyang Widhi telah menghendaki sesuatu, maka manusia tak bisa berkutik sedikit pun. Demikian halnya dengan kejayaan Majapahit ini, kita hanya sebatas mengupayakan seoptimal mungkin jangan sampai istana Majapahit menjadi kacau-balau. Tetapi bukankah kita harus pasrah kepada Sang Hyang Widhi bahwa semua keputusan berada dalam genggamannya?" jelas Naya Genggong.
"Baiklah Paman Sabda Palon dan Naya Genggong, bagaimanapun aku mengucapkan terima kasih atas informasimu. Aku pun akan memperbanyak semadi, apalagi setelah kalian berdua telah menginformasikan mengenai kabar buruk dalam wisik yang kalian dapatkan." ujar Prabu Brawijaya V serius.
Sumber: Buku Brawijaya Moksa Detik-Detik Perjalanan Hidup Prabu Majapahit
(Erha Aprili Ramadhoni)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.