Share

4 Negara dengan Kasus Perdagangan Manusia di Dunia, Terjadi di Indonesia

Ajeng Wirachmi, Litbang Okezone · Minggu 03 April 2022 04:06 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 02 18 2572065 4-negara-dengan-kasus-perdagangan-manusia-di-dunia-terjadi-di-indonesia-MsLGMyFrA9.jpg Ilustrasi perdagangan orang (Foto: Okezone)

JAKARTA - Kasus perdagangan orang masih marak terjadi di berbagai negara di seluruh dunia. Umumnya, mereka dijual dan dipaksa menjadi pekerja seks atau buruh pabrik maupun perkebunan. Berikut adalah empat kasus perdagangan manusia yang ada di dunia.

1. Indonesia

Isu perdagangan manusia di Indonesia sudah bukan lagi hal baru. Dalam buku Perdagangan Orang: Pencegahan, Penanganan dan Perlindungan Korban, Indonesia disebut sebagai negara pengirim, lokasi transit, dan negara tujuan perdagangan orang. Sebagian besar korbannya adalah perempuan dan anak-anak.

Baca juga: Seorang Wanita Dirantai Lehernya, China Klaim Penangkapan Kasus Perdagangan Manusia

Salah satu kasusnya terjadi di Sukabumi, Jawa Barat pada Februari 2022. Melansir Okezone, 4 gadis asal Sukabumi diiming-imingi gaji besar dari tersangka yang berinisial DR. Adapun gaji yang dijanjikan sebesar Rp7 juta per bulan. Keempatnya diminta bekerja di sebuah kafe yang ada di Papua. Namun, karena kafe tersebut sepi, maka tersangka menjual 4 remaja itu dengan harga Rp80 juta per orang. Mereka dipaksa untuk melayani tamu yang bertandang. Jika korban tidak bersedia, maka uang yang telah dibayarkan harus dikembalikan kepada muncikari. Kasus perdagangan orang ini menyorot perhatian masyarakat dan pihak kepolisian. Polisi langsung menangani kasus ini dan mengamankan para tersangka.

Baca juga: Niat Cari Kerja, Gadis Ini Malah Disiram Air Keras dan Nyaris Jadi Korban Trafficking

2. China

Perdagangan orang di China tidak hanya menyasar para perempuan dan anak-anak, namun juga kaum pria. Mereka dijual dan dipaksa bekerja ke 80 negara asing dan bekerja di restoran, toko, hingga pabrik. Kasus yang belakangan ini mencuat di China adalah ditemukannya seorang perempuan dengan kondisi leher terantai, pada Februari 2022. BBC menyebut, perempuan dewasa yang menderita gangguan jiwa itu adalah korban perdagangan orang. Peristiwa tersebut mendapat banyak kecaman dari masyarakat China yang menyadari bahwa negara itu masih terus berperang melawan perdagangan orang.

Baca Juga: Salurkan BLT BBM kepada 20,65 Juta KPM, Ini Strategi Pos Indonesia

3. Thailand

Kasus kriminal perdagangan anak di bawah umur masih marak terjadi di Thailand. Contohnya adalah peristiwa yang terjadi pada 2018 silam. Kepolisian Thailand menangkap 8 orang tersangka yang terbukti melakukan perdagangan anak untuk seks. Ironisnya, salah satu tersangka adalah anggota polisi berpangkat sersan, yang seharusnya melindungi masyarakat. Para tersangka divonis beragam, ada yang mendapat hukuman 19 tahun penjara hingga yang terberat adalah 320 tahun masa kurungan atau seumur hidup.

Mengutip dari artikel “Upaya UNIAP (United Nation Inter Agency Project on Human Trafficking) dalam Menangani Human Trafficking di Thailand”, Thailand dikatakan juga menjadi tempat transit dan negara tujuan perdagangan orang dari berbagai negara. Biasanya, perdagangan orang di negara itu melibatkan beberapa negara di sekitarnya, seperti Kamboja, Laos, dan Myanmar. Demi mengurangi kasus perdagangan orang di Thailand, pemerintah terus melakukan langkah-langkah nyata. Salah satunya, bekerja sama dengan organisasi internasional seperti UNIAP dan ILO (International Labour Organization), serta menjalin kerja sama bilateral dan multilateral dengan negara lain.

4. Singapura

Singapura menjadi salah satu negara tujuan perdagangan orang, selain Indonesia dan Thailand. The Straits Times mengabarkan, sepasang suami istri asal India yang menetap di Singapura berhasil diamankan pihak kepolisian karena melakukan perdagangan orang di klub malam miliknya, pada Februari 2020. Keduanya diketahui memiliki klub malam bernama Hindi di Singapura dan menjual 3 pekerja perempuannya sebagai pekerja seks. Selama menjadi karyawan, korban tidak diperbolehkan bepergian sendiri. Paspor dan telepon genggam mereka juga disita. Akibatnya, para korban terkurung dan tidak bisa berinteraksi dengan keluarganya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini