Saat menceritakan kisah itu, Hakeem menunjukkan dirinya memakan jaket yang sangat tebal. Ini mengartikan betapa dinginnya suhu di sana. Dia mengatakan jika kondisi ini membuat dia dan warga Muslim lainnya tidak merasakan haus saat berpuasa, namun lebih merasakan lapar.
“Dan kebanyakan orang-orang saat ini sudah pada tidur sebab nanti harus kerja. Sementara muslim belum tidur karena baru saja selesai salat Tarawih dan sebentara lagi mereka akan makan sahur. Dan seseorang mengatakan bagaimana anda berpuasa di sana, di tempat di mana tidak ada matahari terbenam ataupun terbit? Apa yang Anda lakukan?,” ujarnya.
Dia mengatakan saat ini ada beberapa fatwa dan muslim di sana memilih fatwa yang menyatukan mereka di wilayah ini.
Ada sekitar 1.200 muslim di sana. Banyak dari mereka datang dari kota-kota kecil di sekitar Arktika Norwegia. Mereka pun memutuskan mengikuti fatwa dari Al Azhar yaitu berpuasa dengan mengikuti waktu Makkah.
“Jadi kami mengikuti waktu Makkah. Itulah mengapa ketika kami berbuka puasa, matahari masih ada di depan kami. Beberapa di antara kalian mungkin berkata ini haram karena matahari belum terbenam. Jadi apa yang harus kami lakukan tepatnya? Itulah yang kami ikuti dan setelah itu, kami mengiktui waktu Tarawih di Makkah, termasuk mengikuti waktu salah Subuh di Makkah,” jelasnya.
Kendati demikian, Hakeem menegaskan tidak selamanya waktu berpuasa di Norwegia akan seperti itu. Dalam beberapa tahun di bulan Ramadan, ada matahari terbit dan terbenam. Dan saat itu terjadi, mereka harus berpuasa mengikuti waktu lokal yang sangat panjang yakni hampir 22 jam.
(Susi Susanti)