JAKARTA - Jika mencari pahlawan perempuan asal Bali pada mesin pencari, nama Ida I Dewa Agung Istri Kanya pasti yang akan muncul. Sosoknya memang tidak seterkenal pejuang perempuan lain, seperti Cut Nyak Dien atau R.A Kartini. Hal itu dikarenakan minimnya data mengenai eksistensi Dewa Agung. Akan tetapi, namanya tetap terpatri sebagai sosok penting dalam perlawanan masyarakat Bali terhadap penjajahan Belanda.
Melansir jurnal berjudul "Ida I Dewa Agung Istri Kanya: Raja, Feminisme, dan Pahlawan dari Klungkung", disebutkan bahwa Dewa Agung dikenal juga dengan nama Anak Agung Istri Kania dan merupakan salah satu keturunan atau warih dari Raja Sri Kresna Kepakisan. Ia adalah Raja Samprangan dan menjadi cikal bakal adanya keturunan Kepakisan di Bali.
Dewa Agung memiliki anak laki-laki bernama Ida I Dewa Agung Putra Balemas. Ida I Dewa Agung Istri Kanya diberikan amanah untuk memimpin kerajaan Klungkung. Meskipun dirinya seorang perempuan, namun Dewa Agung tidak mengalami masalah atau ketakutan sedikit pun dalam memimpin kerajaannya. Semasa kecilnya, Dewa Agung tinggal di Kusamba dan diasuh ibu kandungnya yang bernama I Gusti Ayu Karang. Setelah menginjak usia dewasa, barulah Dewa Agung hijrah ke Klungkung dan tinggal bersama kakeknya, Ida I Dewa Agung Sakti, yang merupakan Raja Klungkung.
Setelah sang kakek wafat, tampuk kepemimpinan dipastikan jatuh ke tangan anaknya, Ida Dewa Agung Putra Kusamba, yang merupakan ayah dari Dewa Agung Istri Kanya. Namun, sang Raja baru itu menyerahkan semua urusan pemerintahan di Klungkung kepada Dewa Agung Istri Kanya. Sementara, ayahnya hanya mengurusi hal-hal yang menyangkut tentang Kusamba saja.
BACA JUGA: 4 Pahlawan Nasional dari Papua, Ada yang Diabadikan di Lembaran Rupiah
Selain itu, Dewa Agung Istri Kanya juga dikenal cerdas di bidang sastra dan menjadi sastrawan terkenal saat itu. Ia sering membuat kidung di waktu senggangnya. Beberapa karyanya yang terkenal adalah Kidung Padem Warak dan Pralambang Bhasa Wewatekan.
Saat memerintah Kerajaan Klungkung di tahun 1849, militer Belanda melakukan serangan ke kerajaan tersebut. Belanda bergerak di bawah kepemimpinan Jenderal AV Michiels. Tidak ada satu pun perempuan di Bali yang berani untuk berperang saat itu. Tanpa ragu, Dewa Agung Istri Kanya maju dan berperang melawan tentara Belanda. Bahkan, ia memimpin pasukan hingga disebut sebagai keturunan ksatria.
Di pihak musuh, kematian sang jenderal membuat militer Belanda tak bisa berbuat banyak. Alhasil, Kerajaan Klungkung pun tidak mampu dikuasai dan aman dari serangan. Sejarah mencatat, Kerajaan Klungkung baru bisa dikuasai dan tunduk pada Belanda di tahun 1908, jauh setelah kepemimpinan Dewa Agung Istri Kanya.
Belanda menjuluki Dewa Agung Istri Kanya sebagai Raja Berkepala Batu. Karena ia dianggap sosok yang sangat tangguh dan feminis. Dewa Agung tidak menikah dan memilih untuk fokus menjaga rakyat dan kerajaannya. Satu prinsip yang sangat terkenal dari Dewa Agung Istri Kanya adalah, lebih baik mati daripada menyerah. Menurutnya, menyerah sama halnya dengan menurunkan harga diri seorang raja. Dewa Agung Istri Kanya wafat tahun 1868. Sebelum ia berpulang, kepemimpinan Kerajaan Klungkung sudah dipegang oleh Ida Dewa Agung Putra III, sepupunya.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.