SAYYID Ali Rahmatullah, nama asli Sunan Ampel, merupakan putra dari ulama besar Ibrahim Al-Ghazi, ulama dari Samarandi di Rusia Selatan, yang menikah dari Dewi Chandrawulan, putri dari Kerajaan Cempa. Dari pernikahan itu, lahir Sayyid Ali Rahmatullah di Cempa (Thailand) pada 1401.
Menginjak remaja, Sayid Ali Rahmatullah mengikuti jejak ayah dan kakeknya untuk menyiarkan dakwah agama Islam. Hingga selang beberapa kemudian, ia mendapatkan undangan kehormatan dari Prabu Brawijaya V untuk mengatasi akhlak para nayaka praja dan putra-putri kaum bangsawan Kerajaan Majapahit. Mengingat ayahnya yang berhasil menyiarkan Islam di Tanah Jawa, ia pun menyetujuinya.
Sayid Ali Rahmatullah atau dalam Babad Jawa dikenal dengan nama Raden Rahmat terkenal dengan metode dakwahnya yang cukup unik yaitu ia membuat kerajinan tangan berupa kipas dengan bahan akar tumbuhan dan anyaman rotan. Konon katanya kipas itu bukan kipas sembarangan, tapi juga bisa digunakan untuk menyembuhkan demam dan batuk.
Kipas-kipas buatannya lalu dibagikan kepada masyarakat secara gratis. Masyarakat yang ingin mendapatkan kipas cukup mengucapkan kalimat syahadat tanpa membayar sepeserpun. Dari situlah awal mula masyarakat memeluk agama Islam.
Melansir Brawijaya Moksa Detik-Detik Akhir Perjalanan Hidup Prabu Majapahit, Raden Rahmat menyadari, yang diajar dan dididik adalah para pemeluk agama Hindu Budha di asrama pendidikan Ampeldenta, Surabaya. Ia pun harus menerapkan pengajaran yang sangat moderat dan penuh kebijaksanaan.
Maka dari itu, ia harus mampu mengemas ajaran Islam dengan baik agar mudah dipahami dan diterima oleh para nayaka praja serta putra-putri kaum bangsawan Majapahit.
"Kalau aku mengajar mereka secara vulgar, jelas mereka malah menjadi anti-pati! Maka, aku harus menyembunyikan ajaran Islam kepada mereka, sebaliknya aku akan mengemas ajaran Islam tersebut ke dalam suatu ajaran mulia yang sangat islami!" begitu gumam Raden Rahmat ketika hendak mengajar soal Aqidah Islamiyah yang dikemas dalam suatu ajaran yang tidak mencolok.
Ajaran yang diajarkan oleh Raden Rahmat tersebut ternyata berupa 'Falsafah Ma Lima' yang mengajak kepada para murid-muridnya agar menghindarkan dan menjauhkan diri dari lima perbuatan tercela.