GAYO LUES - Kabupaten Gayo Lues yang terletak di wilayah Taman Nasional Gunung Leuser memiliki satu tradisi turun-temurun di setiap desanya. Salah satunya tradisi menangkap ikan di kolam bersama atau dalam istilah lokal disebut dengan kulem perurumen.
Tradisi menangkap ikan di kabupaten asal tari saman itu digelar dua kali dalam satu tahun pada setiap usai panen padi. Hampir setiap desa di Gayo Lues melaksanakan tradisi peninggalan endatu tersebut.
Alhasil keseruan dan kegembiraan warga dalam kegiatan tersebut terpancar dari raut wajah mereka.
Menangkap ikan di kulem perurumen memiliki aturan tersendiri. Tokoh masyarakat, Firdaus, pada Minggu (15/5/2022) menjelaskan peraturan itu di antaranya warga baru bisa masuk ke kolam setelah ada perintah dari ketua adat atau kepala desa setempat. Peralatan yang digunakan dalam menangkap ikan hanya bisa menggunakan serokan atau lebih dikenal dengan istilah durung dan gedegem.
BACA JUGA:Hendak Gelar Tradisi Tangkap Ikan, Warga Malah Temukan Bayi Baru Lahir Mengapung
Salah seorang warga, Asmah, mengaku senang dengan kegiatan ini untuk meneruskan tradisi yang telah digelar secara turun-temurun. Setiap kepala keluarga memberikan sumbangan untuk membeli bibit yang selama ini disemai di kulem perueumen.
Kegiatan warga menangkap ikan secara bersama-sama di kolam dengan air yang masih dalam ternyata memiliki filosofi. Filosofinya adalah setiap insan yang ingin berhasil dalam berbagai bidang tentu harus serius dan berusaha sekuat tenaga untuk menggapai keberhasilan yang diinginkan.
(Erha Aprili Ramadhoni)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.