Share

Belajar dari Covid-19, WHO Siap Hadapi Pandemi di Masa Mendatang dan Hindari Kesalahan Fatal

Susi Susanti, Okezone · Senin 23 Mei 2022 14:22 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 23 18 2598764 belajar-dari-covid-19-who-siap-hadapi-pandemi-di-masa-mendatang-dan-hindari-kesalahan-fatal-Fk3DQiSbdE.jpg Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus (Foto: Reuters)

LONDON – Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, akan memiliki sejarah di benaknya ketika dia menjadi tuan rumah bagi hampir 200 negara anggota di majelis tahunan badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Minggu (22/5/2022) kemarin waktu setempat.

Dalam buku putih baru-baru ini yang menguraikan rencananya untuk masa depan keamanan kesehatan global, Tedros memulai dengan mengutip sejarawan Yunani kuno Thucydides, yang ingin dunia belajar dari kesalahan wabah yang menghancurkan di Athena pada 430 SM.

Peringatan Thucydides di Athena terjadi ketika wabah meninggalkan pelajaran yang sangat berharga ke dunia yang dianggap sama dengan kondisi saat ini ketika Covid-19 menerjang ekonomi global dan meluluhlantakan sistem politik di setiap negara.

Hampir dua setengah milenium kemudian dan setelah Covid-19 telah menewaskan sedikitnya 15 juta orang di seluruh dunia, menghindari terulangnya kesalahan langkah fatal dalam pandemi di masa depan adalah tema tidak tertulis dari Majelis Kesehatan Dunia minggu ini di Jenewa.

Baca juga: WHO: Vaksin Booster Hanya Akan Perpanjang Pandemi Covid-19

Saat para delegasi bertemu, Covid-19 masih berkecamuk. Negara-negara semakin terpolarisasi dari sebelumnya tentang cara terbaik untuk memerangi krisis kesehatan terbesar di dunia dalam satu abad ini. Upaya untuk memvaksinasi dunia masih belum lengkap.

Baca juga: Waspada Varian Omicron, WHO Minta Libur Natal dan Tahun Baru Ditiadakan

Lalu peran badan PBB di masa depan dalam mencegah dunia melupakan wabah mematikan ini dan membimbingnya melalui yang berikutnya masih belum jelas.

Buku putih Tedros, yang akan dibahas di majelis, membayangkan masa depan dengan WHO yang diperkuat di pusat kesiapsiagaan darurat kesehatan.

Sebagian dari rencananya telah dilihat oleh pengamat WHO sebagai perebutan kekuasaan, termasuk proposal untuk membentuk dewan darurat kesehatan global yang "terkait dan selaras dengan" WHO. Para ahli eksternal tingkat tinggi telah menyarankan bahwa setiap badan dari jenis ini harus independen, dan pada tingkat pemimpin dunia.

Usulan alternatif oleh G20 untuk dana pandemi hingga USD50 miliar (Rp733 triliun) pada awalnya dipandang sebagai saingan potensial bagi WHO, yang memiliki kekuatan untuk mengucurkan uang melalui mekanisme darurat dalam menanggapi wabah penyakit.

Sekarang badan tersebut berusaha untuk memainkan peran dalam dana yang diusulkan, mungkin melalui kursi dewan, yang berarti mereka secara teoritis dapat hidup berdampingan, dengan dana yang menyalurkan uangnya melalui WHO.

Hasil terbesar dari majelis itu sendiri diharapkan menjadi kesepakatan pendanaan yang dipandang perlu untuk memastikan kelangsungan hidup WHO, dengan kesepakatan yang akan disetujui oleh anggota yang akan membantu mengurangi ketergantungannya pada sumbangan dengan ikatan.

WHO saat ini didanai sebagian besar oleh kontribusi sukarela dari pemerintah dan donor swasta, sebuah pengaturan yang menurut badan PBB dan panel ahli independen tidak berkelanjutan karena organisasi menghadapi tantangan baru, termasuk risiko pandemi yang lebih tinggi serta masalah kesehatan lainnya dari menyusui ke Ebola.

Kesepakatan yang akan menaikkan biaya wajib bagi negara-negara anggota dan mengurangi ketergantungannya pada sumbangan - selama WHO membuat perubahan yang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi - kemungkinan akan disetujui.

Menurut pengamat, ini adalah langkah pertama yang penting dalam menempatkan dunia di tempat yang lebih baik untuk ancaman baru, Tetapi lebih banyak yang harus dilakukan.

"Penguatan WHO sangat penting tetapi tidak cukup untuk mencegah, mempersiapkan dan menanggapi pandemi lain," kata Carolyn Reynolds, pendiri Jaringan Aksi Pandemi.

Itu karena walaupun WHO mungkin lebih dari sekadar pandemi, pandemi juga lebih dari WHO.

"Semuanya ada di tangan kemudi," kata Helen Clark, ketua bersama Panel Independen untuk Kesiapsiagaan dan Respons Pandemi, badan yang dibentuk oleh WHO untuk meninjau respons global terhadap Covid-19.

Clark - mantan perdana menteri Selandia Baru - ingin tidak hanya WHO, tetapi dunia untuk belajar dan bisa cepat mempelajari.

Pekan lalu, panel tersebut merilis laporan yang memperingatkan bahwa meskipun ada beberapa kemajuan, dunia tidak lebih siap menghadapi ancaman kesehatan baru daripada ketika virus corona muncul pada 2019, dan bahkan mungkin berada di tempat yang lebih buruk karena korban ekonomi pandemi.

Menurut laporan itu, reformasi sangat mendesak, dan ini bukan hanya karena situasi yang terjadi pada saat ini.

Dunia membutuhkan WHO yang diperkuat dan kesiapsiagaan yang lebih baik secara menyeluruh.

Lawrence Gostin, seorang profesor di Georgetown Law di Washington, DC, yang mengikuti WHO, mengatakan bahwa badan tersebut memiliki kesempatan untuk menegaskan kembali dirinya setelah beberapa tahun yang sulit.

"Ini tidak akan pernah sama, pemimpin kesehatan global tunggal yang tak tertandingi seperti dalam beberapa dekade setelah Perang Dunia Kedua, tetapi saya pikir itu bisa mendapatkan kembali status dan otoritasnya dalam abu pandemi ini," katanya.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini