JAKARTA - Musim semi perusahan rintisan atau startup di Indonesia tampaknya mulai berakhir. Pasalnya, dalam beberapa waktu belakangan banyak perusahaan rintisan ini yang gulung tikar hingga melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada karyawannya.
Hal ini pun menjadi sorotan dari Peneliti Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda. Menurutnya tahun ini menjadi tahun terburuk bagi industri startup.
Pemicunya, suntikan dana dari luar negeri mulai menipis dan investor selektif dalam mencairkan fulus ke startup.
"Pada tahun 2022, tampaknya terjadi penurunan investasi dan hingga tengah tahun investasi ke startup Indonesia belum mencapai 50% dari tahun lalu," ucap Huda dalam webinar Partai Perindo bertajuk "Startup Mulai Berguguran, Ada Apa?" dikutip, Minggu (12/6/2022).
Penurunan investasi terjadi karena adanya seleksi yang ketat dalam pendanaan dari luar negeri, sebaliknya startup di Indonesia malah jorjoran melakukan ekspansi pasarnya dan merekrut karyawan secara besar-besaran.
Ia mencontohkan ada kebijakan baru di Amerika Serikat terkait pendanaan, sehingga investor yang menanamkan modalnya di Indonesia akan semakin berkurang dan selektif mencairkan dana.
"Pendanaannya susah, tetapi mereka sudah terlanjur melakukan ekspansi pasar dan sudah meng-hire karyawan yang cukup masif," ujarnya.
Merosotnya investasi dari luar negeri menyebabnya keberadaan startup di Indonesia kelimpungan di tengah jalan. Akibatnya startup kalah saing karena tidak memiliki dana lagi hingga akhirnya mem-PHK karyawan.
"Efekya mereka tidak bisa beroperasional, tidak bisa memberikan insentif bagi konsumen, sehingga mereka melakukan efisiensi. Akhirnya dipilih jalan keluar yaitu mereka melepas karyawan secara masif," ungkapnya.
Padahal, sebelumnya pertumbuhan starup di dalam negeri sangat masif. Jumlah startup di Indonesia mencapai 2.379 dan berada di urutan ke-5 di dunia.
"Indonesia cuma kalah dari Amerika, India, UK dan Kanada. China hanya punya 618 startup," ungkapnya.
Bahkan pada 2021 terjadi kenaikan yang cukup tajam dalam investasi ke startup digital Indonesia dari perusahaan modal ventura atau venture capital company di luar negeri.
"Tahun 2021, investasi startup mencapai puncaknya dengan Rp144,06 triliun atau naik hingga 195%," tuturnya.
Akan tetapi memasuki tahun ini, beberapa startup mulai bertumbangan.
(Nanda Aria)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.