Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Haji Mangan, Sosok di Balik Sejarah Diadakan PRJ Usai G30S PKI

Tim Litbang MPI , Jurnalis-Rabu, 22 Juni 2022 |17:09 WIB
Haji Mangan, Sosok di Balik Sejarah Diadakan PRJ Usai G30S PKI
PRJ/Foto: Okezone
A
A
A

JAKARTA Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran kembali dibuka tahun ini setelah kasus Covid-19 di Jakarta semakin menurun.

Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau Jakarta Fair menjadi hajatan besar masyarakat saat merayakan HUT Jakarta. PRJ biasa digelar di Kemayoran, Jakarta Pusat sekitar pertengahan Juni hingga Juli setiap tahunnya.

(Baca juga: Babe Sani, Jenderal Asal Betawi Ahli Tempur dan Jago Silat yang Disegani Legenda Kopassus)

Namun tahukah anda kapan pesta rakyat ini pertama kali digelar?

Melansir laman resmi Sudin Pusip (Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan) Kota Administrasi Jakarta Utara, PRJ pertama kali dihelat pada 5 Juni sampai 20 Juli 1968. Kala itu, gelaran ini diresmikan dan dibuka oleh Presiden RI ke-2 Soeharto, dengan melepas burung merpati pos.

Awalnya, bukan PRJ atau Jakarta Fair, nama pertama yang disematkan adalah DF atau Djakarta Fair yang merupakan ejaan lama. Seiring berjalannya waktu, ejaan itu berubah menjadi Jakarta Fair.

Adalah Haji Mangan, Ketua Kadin atau Kamar Dagang dan Industri yang mengusulkan acara tersebut. Pria bernama asli Syamsudin Mangan itu menginginkan adanya acara pameran yang bertujuan untuk meningkatkan pemasaran produksi dalam negeri.

Saat itu, kondisi ekonomi menurun sejak peristiwa pemberontakan 1965 dan coba untuk digerakkan kembali roda ekonominya. Mangan menyampaikan ide tersebut kepada Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada 1967. Bak gayung bersambut, Bang Ali dan jajaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerima ide tersebut.

Gagasan Mangan itu kemudian dielaborasikan dengan konsep pasar malam yang juga mulai menyebar di Jakarta kala itu, seperti pasar malam Gambir yang tiap tahun dilakukan di bekas Lapangan Ikada. Mangan juga mendapat banyak inspirasi dari berbagai acara pameran internasional yang sering ia datangi. Panitia sementara pun dibuat agar acara ini terselenggara dan dipercayakan kepada Kadin.

Setahun setelah peresmian, Pemerintah DKI Jakarta mengeluarkan Perda yang menetapkan bahwa PRJ adalah agenda rutin tiap tahun dan wajib ada menjelang HUT DKI Jakarta. Badan pengelola PRJ selanjutnya dipercayakan kepada Yayasan Penyelenggara Pameran dan Pekan Raya Jakarta. Tugasnya tak hanya sebatas pada penyelenggaraan, melainkan juga mempromosikan arena promosi dan hiburan Jakarta atau PHJ yang dibidik diselenggarakan setiap tahun.

Bagaimana warga Jakarta menyambut acara ini? Respons masyarakat sangat antusias. PRJ tahun 1968 dihadiri oleh 1,4 juta orang dengan rangkaian acara unik. Salah satunya adalah pemilihan Ratu Waria yang diikuti oleh 151 peserta.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement