Human Capital Director PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart) Tri Wasono Sunu, mengakui bahwa ritel modern adalah salah satu industri padat karya yang kebutuhan tenaga kerja di setiap tahunnya terbilang besar dan menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan untuk memenuhinya.
“Kebutuhan tenaga kerja untuk ritel modern cukup tinggi, begitu pula dengan peminatnya. Namun keterampilan yang dimiliki seringkali tidak memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan, sehingga perusahaan harus memberikan banyak pelatihan sebelum menerjunkan tenaga kerja ini ke pekerjaannya,” ujar Sunu.
Alfamart melakukan transfer knowledge dan praktik pembelajaran kepada tenaga pendidik di SMK-SMK yang telah bekerja sama, sehingga memperluas pengetahuan para guru sekaligus untuk sinkronisasi kurikulum pendidikan ritel tersebut.
Dirinya menambahkan, program ini didesain khusus dengan tetap mengacu pada peraturan pendidikan nasional yang ada dan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan industri ritel.
Tak hanya memberikan materi pembelajaran saja, untuk melengkapi kompetensi para siswa, Alfamart menghibahkan laboratorium ritel sebagai sarana praktik siswa di tiap sekolah dan program praktik kerja industri (prakerin) selama 6 bulan yang bisa memberikan pengalaman nyata siswa. Dari laboratorium ini mereka dibekali pengetahun produk, penjualan, transaksi dan administrasi keuangan, persediaan produk, pelayanan pelanggan, prosedur kerja, hingga kerja sama tim.
Selain itu manfaat lainnya bagi siswa-siswi lulusan Alfamart Class adalah bisa langsung bergabung menjadi karyawan Alfamart tanpa proses seleksi, bahkan dengan level yang lebih tinggi dibanding penerimaan jalur reguler. Bahkan mereka juga bisa membuka usaha ritel secara mandiri atau melanjutkan ke perguruan tinggi.

foto: belajar mengajar Alfamart Class di kelas