Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Halima Aden, Pengungsi yang Berhasil Jadi Supermodel Berhijab Pertama di Dunia

Tim Okezone , Jurnalis-Jum'at, 08 Juli 2022 |03:04 WIB
Kisah Halima Aden, Pengungsi yang Berhasil Jadi Supermodel Berhijab Pertama di Dunia
Halima Aden/ Foto: BBC
A
A
A

JAKARTA - Pengungsi Somalia-Amerika dari Kenya, Halima Aden berhasil menjadi supermodel berjilbab pertama di dunia. Dia menceritakan bagaimana kisah susksesnya meraih cita-cita sebagai model, meskipun ia mengenakan hijab.

"Tidak satu perempuanpun dapat dipaksa mengenakan hijab dan tidak satu perempuanpun bisa dipaksa untuk menanggalkannya," katanya seperti dilansir dari BBC, Kamis (7/7/2022).

 BACA JUGA:MNC Peduli Bersama Partai Perindo Salurkan Sapi ke Masjid Baitul Faidzin Cibinong

Halima, 22 tahun, menggebrak dunia fesyen ketika menjadi model berhijab pertama di majalah seperti Vogue dan Sports Illustrated, di samping juga muncul di panggung berbagai merek seperti Max Mara dan Yeezy.

"Saya merayakan pilihan memakai jilbab. Saya tidak pernah meminta siapapun untuk mendukung pandanganku atau berpakaian dengan cara yang sama," tambah Halima yang sekarang mendapatkan bayaran tinggi.

Halima memiliki tinggi 165 cm. Ini sesuatu yang tidak biasa bagi seorang model. Ditemani manajer dan pengawalnya, Halima dengan antusias bercakap-cakap dengan siapapun yang lewat dan disamping juga berselfie.

"Jangan mengubah diri Anda, tetapi ubah caranya," kata Halima. Dia berkeinginan untuk memberikan tempat bagi perempuan Muslim dunia sehingga pandangannya didengar orang lain.

Halima memberi optimisme baru bagi kalangan wanita, khususnya yang berhijab. Ia adalah kontestan berhijab pertama pada lomba kecantikan Miss Minnesota di AS.

Dia memang tidak menjuarai lomba itu, tetapi pada kompetisi tersebut dia menemukan burkini, pakaian renang yang menutupi seluruh tubuh, sehingga memungkinkannya ikut dalam ronde pakaian renang.

Tidak lama kemudian dia menandatangani kontrak dengan salah satu agen model terbesar, IMG models.

Agamanya memang membuat Halima tidak dapat memperlihatkan bagian tubuhnya, kecuali wajah, tangan dan kaki. Semua hal ini tercantum dalam kontraknya.

Halima adalah pendukung kebebasan memilih terkait dengan pakaian yang dikenakan perempuan.

"Saya berpandangan seorang perempuan seharusnya dapat memakai bikini, jika itu membuatnya cantik dan percaya diri. Dan saya seharusnya dapat memakai hijab jika itu membuat saya cantik dan percaya diri."

Halima juga merasa bangga karena dirinya menjadi duta besar badan PBB untuk anak-anak UNICEF, mengunjungi berbagai tempat dunia dan ikut serta membantu masyakarat yang kurang beruntung.

 BACA JUGA:WHO Laporkan 2 Angka Kasus Kematian Baru Akibat Wabah Cacar Monyet

Halima menaruh foto-foto pemotretan fesyen dan pesta mewah di Instagram, di mana dia diikuti satu juta orang. Banyak dari mereka adalah perempuan muda Muslim yang menjadikannya model panutan.

Setiap fotonya mendapatkan ribuan likes dan ratusan komentar.

Walaupun sebagian besar pihak bereaksi positif, terdapat juga sejumlah perempuan Muslim yang mengecam Halima karena dipandang tidak cukup sopan.

"Kesopanan adalah sebuah pilihan pribadi," kata Halima.

"Tidak seorangpun berhak mendefiniskan apa yang dimaksud dengan kesopanan bagi diriku. Saya pikir tidak masalah jika seorang perempuan muda berusaha meraih mimpinya, keinginannya dan tetap menjadi dirinya sendiri," ujarnya.

Masa kecil yang suram

Halima mengalami kemiskinan saat anak-anak dan pengalamannya itu membentuk cara berpikirnya.

Dia dilahirkan di sebuah kamp pengungsi Kenya setelah keluarganya melarikan diri dari perang saudara di Somalia. Halima dibesarkan hanya oleh ibunya.

 BACA JUGA:Tragis, Balita Berumur 6 Bulan Tewas Tersetrum Saat Neneknya Menyetrika

Tetapi dia tidak terkesan dengan keputusan anak perempuannya menjadi model.

Sebagai orang Muslim konservatif, ibunya mengatakan apa yang dilakukan Halima bukanlah bagian dari agama Islam. Tetapi dia tidak menghalangi ambisi anaknya.

Di sisi lain, Halima tidak melupakan perjuangan ibunya agar keluarganya dapat bertahan hidup.

Ketika Halima berumur enam tahun, keluarganya diberikan kesempatan pindah ke AS. Mereka akhirnya berdiam di St Cloud, Minnesota, tempat yang banyak ditinggali warga Somalia.

"Saya ingat suatu hari saya ingin ikut serta tur sekolah, biayanya US$10 (Rp138.951). Ibu mengatakan, saya tidak mempunyai uang. Saya menjawab: 'Saya tidak suka ini, mengapa kita miskin sekali?'"

 BACA JUGA:DeadSquad Perkenalkan Vicky Mono Eks Burgerkill Sebagai Vokalis Baru

Ibunya berusaha menghibur dengan mengutip ajaran Islam. "Kamu memiliki keyakinan, kamu memiliki iman. Kamu memiliki semuanya, kecuali kemiskinan karena kamu memiliki kekayaan ini di dalam dirimu.'"

Pendobrak model berhijab

Halima, yang secara teratur berbicara dengan para perempuan muda dunia, melihat perubahan positif di industri fesyen terkait dengan model yang berhijab.

"Terdapat banyak perempuan berhijab di panggung sekarang, begitu banyak perempuan berhijab mengikuti kompetisi, daftar model kami berisi begitu banyak perempuan berhijab. Saya pikir ini menjadi suatu hal yang biasa sekarang."

 BACA JUGA:Daftar Mobil dan Motor Jenis Ini Bakal Dilarang Pakai Petralite

Dia sekarang dipandang banyak pihak sebagai wajah industri fesyen sopan.

(Nanda Aria)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement