3. Tentara sekutu mengabaikan perjanjian perundingan
Bukannya meredakan suasana. Sikap tentara sekutu malah membuat Ambarawa semakin panas. Mereka mengabaikan perjanjian bersama pada 2 November 1945 dan justru memanfaatkannya.
Sekutu yang diperbolehkan ke Magelang itu menambahkan pasukan serta pasokan senjata. Hal ini membuat kondisi Indonesia menjadi sangat bahaya akan kesiapan dari para sekutu sehingga pada 21 November 1945, pertempuran dimulai.
4. Tewasnya Kolonel Isdiman
Pada pertempuran Ambarawa di tanggal 26 November, Kolonel Isdiman tewas. Hal ini membuat rakyat Ambarawa dan TKR semakin gencar melakukan serangan balik.
Akibat tewasnya Kolonel Isdiman, pemimpin pasukan digantikan oleh Kolonel Soedirman.
Kemudian pada puncak pertempuran, TKR yang dipimpin oleh Kolonel Soedirman mulai menyerang sekutu di dalam kota. Saat itu, sekutu berada di Benteng Willem dan berhasil dikepung selama 4 hari 4 malam.
Akibatnya, sekutu merasa terhimpit dan mundur dari Ambarawa. Pertempuran ini pun akhirnya dimenangkan oleh Indonesia.
Dari kemenangan Pertempuran Ambarawa ini berhasil diabadikan lewat Monumen Palagan sebagai simbol keberanian dan ketangguhan para pejuang.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.