Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Berawal dari Peristiwa Malari, Prajurit Kopassus Ini Nekat Melamar Keluarga Cendana

Tim Okezone , Jurnalis-Sabtu, 17 Desember 2022 |07:33 WIB
Berawal dari Peristiwa Malari, Prajurit Kopassus Ini Nekat Melamar Keluarga Cendana
Wismoyo Arismunandar/Tangkapan layar media sosial
A
A
A

JAKARTA - Wismoyo Arismundar yang saat itu menjabat Asisten Pengamanan Kopassandha mendadak ditugaskan menyampaikan pesan oleh komandannya kepada Presiden Soeharto terkait Peristiwa Malari (Malapetaka Limabelas Januari) yang terjadi pada 1974.

Diketahui, peristiwa itu berujung kerusuhan saat kunjungan Perdana Menteri Jepang Tanaka Kakuei di Jakarta, 14-17 Januari 1974. Sejumlah tuntutan yang disuarakan mahasiswa adalah antipenanaman modal asing yang menguntungkan kelompok tertentu, pemberantasan korupsi, tingginya harga kebutuhan pokok.

(Baca juga: Bertempur di Palagan Timor, Jenderal Kopassus Wismoyo ke Prabowo: Keluarga Prajurit Titip 100 Nyawa di Pundakmu!)

Saat itu dia masih berpangkat Mayor. Dengan rasa deg-degan akhirnya perwira Korps Baret Merah Kopassus ini menghadap Soeharto di Cendana.

“Ono opo (ada apa)," tanya Soeharto yang hanya mengenakan sarung dan kaus oblong seperti dikutip dari buku Pak Harto The Untold Stories (2012), Jumat (16/2/2022).

Dia menyampaikan maksud kedatangannya untuk menyampaikan pesan bahwa Kopassandha (cikal bakal Kopassus) akan tetap setia kepada Presiden Soeharto.

"Setia iku opo (setia itu apa)," tanya Soeharto lagi.

Mendengar pertanyaan itu, Wismoyo pun bingung bukan kepalang. Ia tak menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu. Di tengah ketegangan itu, Soeharto lalu mencairkan suasana dengan menjelaskan bahwa setia itu berarti memegang teguh kebersamaan dalam mencapai cita-cita.

"Kalau kamu ingin menjadi pribadi yang maju, kamu harus pandai mengenal apa yang terjadi, pandai melihat, pandai mendengar, dan pandai mengalanisis," kata Soeharto.

Momen pertemuannya saat menghadap orang nomor 1 di negeri ini,membuat hubungan keduanya semakin dekat, apalagi cinta Wismoyo kemudian berlabuh kepada Datit Siti Hardjanti, adik kandung Ibu Tien Soeharto.

Singkat cerita, Wismoyo melamar sang pujaan hati Datit Siti Hardjanto. Meski sudah menjalani hubungan asmara, belum sekali pun Wismoyo dikenalkan dengan calon mertuanya. Hingga saatnya tiba, ia malah harus melamar kepada Soeharto dan Ibu Tien.

Wismoyo pun mempersiapkan diri untuk menghadapi momen penting dalam hidupnya. Ia grogi harus melamar kepada Presiden Soeharto dan Ibu Tien. Saking groginya, Wismoyo terus menerus mengelap sepatu supaya berkilau.

Wismoyo berangkat sendirian ke kediaman Soeharto untuk melamar kekasihnya. Sesampai di sana, Wismoyo melihat banyak sandal dan sepatu berjejer di dekat tangga menuju ruang pertemuan. Ia bingung, mau melepas atau tetap memakai sepatu bot yang telah dielap mengkilap.

"Tapi masak saya melamar tanpa memakai sepatu," batin Wismoyo sambil menaiki tangga menuju ruangan, di mana Pak Harto dan Ibu Tien sudah menunggu.

Setelah masuk, ternyata hanya Wismoyo yang mengenakan sepatu. Dia pun menjadi salah tingkah. Apalagi Ibu Tien melihatnya dari bawah sampai atas yang membuat mentalnya runtuh. Wismoyo pun menjadi salah tingkah.

"Wong lanang kok ingah ingih (lelaki kok tersipu-sipu)," kata Ibu Tien disambut senyuman khas Pak Harto. Sementara Wismoyo hanya menunduk tak mampu berkata apa-apa. "Aku mbiyen yo ingah ingih," kata Soeharto memecahkan ketegangan suasana sambil teringat saat meminang Ibu Tien.

Mendengar hal itu, suasana kembali cair. Mental Wismoyo pun kembali. Ia pun mengutarakan maksud kedatangannya untuk melamar Datit Siti Hardjanti dan diterima. Wismoyo dan Datit kemudian membina rumah tangga yang harmonis.

(Fahmi Firdaus )

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement