JAKARTA – Soekarno meninggal pada 21 Juni 1970 di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto. Rumah sakit tersebut menjadi saksi sejarah tempat terakhir Soekarno mendapat perawatan sebelum tutup usia.
Putra Sang Fajar tutup usia pagi hari pukul 07.07 WIB, di ruang perawatan RSPAD Gatot Subroto karena komplikasi ginjal, gagal jantung, sesak napas dan reumatik.
Kehidupan Bung Karno jelang akhir hidupnya dirundung nestapa. Sebelum dirawat di RSPAD, Bung Karno dikucilkan dan dilarang menginjakkan kaki di Jakarta. Ia tinggal di Istana Bogor, kemudian pindah ke Istana Batu Tulis.
Soekarno kemudian memohon kepada Soeharto agar diizinkan kembali ke Jakarta melalui putrinya, Rachmawati. Setelah mendapat izin, ia lalu dibawa ke Wisma Yaso dengan status tahanan dengan pengamanan yang sangat ketat.
Pada akhir tahun 1966, sebelum berhenti sebagai menteri dan dokter pribadi Presiden, dokter Soeharto menjenguk Bung Karno di Wisma Yaso. Kesehatan Bung Karno diperiksa.
Kepada Kolonel CPM Maulwi Saelan, dokter Soeharto mengatakan kesehatan Sang Proklamator sangat menurun. Produksi kristal dan batu tercatat lebih banyak dan tekanan darah yang biasanya rendah, cenderung meningkat. Selain masalah fungsi ginjal, juga muncul gejala komplikasi penyakit lain.
“Diperkirakan ginjal kanan berfungsi hanya 25-50%,” kata dokter Soeharto seperti ditulis Maulwi Saelan dalam buku “Mengutip Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa, Dari Revolusi 45 Sampai Kudeta 66”.
Saat bertemu Bung Karno di akhir tahun 1966 itu, dokter Soeharto menyarankan mantan Presiden pertama RI itu untuk dirawat di rumah sakit.
“Apakah tidak lebih baik dirawat di rumah sakit saja?,” kata dokter Soeharto.
Bung Karno menjawab, “Ik heb niets te willen, dat moeten de behandelendt doktoren maar uitmaken. Saya tidak boleh keinginan apa-apa, seharusnya dokter-dokter yang menangani yang memutuskan”.
Pada Sabtu, 20 Juni 1970 pukul 20.30 WIB, kesadaran Bung Karno menurun dan Minggu dini hari, sang Proklamator RI itu mengalami koma. Dokter Mahar Mardjono langsung menghubungi putra-putra Bung Karno, sekaligus meminta untuk segera datang.
Pada Minggu 21 Juni 1970, pukul 06.30 Wib terlihat hadir Guntur Soekarno Putra, Megawati Soekarno Putri, Rachmawati Soekarno Putri, Sukmawati Soekarno Putri dan Guruh Soekarno Putra.
Namun Bung Karno tetap berada di Wisma Yaso menjalani hari-harinya dengan menahan rasa sakit dan sepi. Kepada dokter Soeharto, Bung Karno sempat mengeluh dirinya merasa kesepian. Kepada Hartini, istrinya yang keempat, Bung Karno menyatakan kesedihannya yang mendalam sembari meneteskan air mata.
“Ik wou maar dat ik de schot krijgt. (Aku ingin agar aku ditembak saja),” kata Bung Karno kepada Hartini.
Pada 16 Juni 1970, Bung Karno akhirnya dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat karena kondisi kesehatannya semakin parah.