Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Mantan Loyalis Bongkar Borok Ponpes Al Zaytun yang Punya Lahan Ribuan Hektare

Andrian Supendi , Jurnalis-Rabu, 21 Juni 2023 |15:12 WIB
Mantan Loyalis Bongkar Borok Ponpes Al Zaytun yang Punya Lahan Ribuan Hektare
Ken Setiawan (Foto: Andrian Supendi)
A
A
A

 

INDRAMAYU - Pondok Pesantren (Ponpes) Al Zaytun di Desa Mekarjaya, Kecamatan Gantar Indramayu, Jawa Barat bikin resah masyarakat. Sejumlah ajaran di Ponpes tersebut berindikasi menyimpang dan sesat.

Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center, Ken Setiawan, mengatakan, di samping ajaran makar NII, Ponpes Al Zaytun juga mengadopsi ajaran Isa Bugis dan Lembaga Kerasulan.

Dari awal terbentuknya, lanjut dia, Al Zaytun sudah mengajarkan makar dan mengajarkan kebencian kepada orang. Namun, di permukaan, ajaran Isa Bugis ini seolah-olah mereka itu toleran.

"Karena ajaran Isa Bugis ini adalah dia mengkolaborasikan atau sinkretisme agama, yaitu menggabungkan beberapa agama menjadi satu," kata Ken kepada MNC Portal Indonesia (MPI), usai acara Silaturahmi Kebangsaan, di Ponpes Hidayatut Tholibin, Indramayu beberapa waktu lalu.

Ken Setiawan yang pernah menjadi pengurus di Ponpes Al Zaytun pada 2000-2002 mengungkapkan, ajaran Isa Bugis berusaha mengilmiahkan agama dan kekuasaan serta menolak semua hal yang tidak masuk akal.

Selain itu, aliran Isa Bugis banyak diikuti oleh kaum intelektual yang cenderung menggunakan akal dan pikiran. Sehingga, terang dia, tidak kaget bila ritual ibadah di Ponpes Al Zaytun terkesan aneh dan berbeda dengan ajaran Islam pada umumnya.

"Makanya, rukun Islam pun mereka ubah, termasuk haji tidak perlu ke Makkah, melainkan haji ada di Indramayu, Jawa Barat yaitu di Al Zaytun dan sholat juga belum diwajibkan. Nah, ini kan termasuk gerakan-gerakan bawah tanah," katanya.

Ken Setiawan menambahkan, di Al Zaytun dosa itu bisa ditebus dengan uang. Besar kecilnya uang tebusan tersebut tergantung kepada besar kecilnya dosa yang telah dilakukan.

"Yang berhak menentukan uang tembusan adalah imam atau pimpinan mereka," ujarnya.

Informasi-informasi tersebut, kata Ken, sebenarnya sudah ada di tangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Kementerian Agama. "Jadi cukup dibuka saja, saya rasa masyarakat sudah tau dan segera buat fatwa agar bisa dijadikan landasan bagi aparat untuk menindak Al Zaytun secara hukum," ujarnya.

Ken Setiawan menambahkan, adanya oknum radikalisme yang mengatasnamakan agama di Ma'had Ponpes Al Zaytun. Tidak hanya itu, di Ponpes juga terdapat hidden kurikulum (kurikulum tersembunyi).

Menurutnya, ini merupakan gerakan makar mendirikan negara di dalam negara.

"Ini sangat membahayakan. Kalau negara tidak bertindak, maka akan membahayakan kedaulatan negara," ujarnya.

Ken Setiawan mengungkapkan, yang terjadi di Ponpes Al Zaytun bukanlah gerakan keagamaan, melainkan gerakan politik. Bahkan, Ken menyebutnya sebagai kejahatan kemanusiaan atas nama agama.

"Orang yang sudah bergabung akan dihancurkan ekonominya, dihancurkan pula akhlak, akidah, dan masa depannya. Ini atas nama agama dan ini besar di pondok pesantren. Ini sangat membahayakan," ungkap dia.

Ken Setiawan berharap, MUI dan Menteri Agama segera menindak lanjuti polemik yang terjadi di Al Zaytun, termasuk membuka hasil penelitian yang lama tentang hasil penelitian yang sudah final dan mengumumkannya.

"MUI dan Menteri Agama agar segera membuat fatwah terkait masalah NII dan Al Zaytun itu sesat dan menyesatkan. Karena di sana ada gerakan makar dari dulu," tegasnya

Ponpes Al Zaytun dipimpin Panji Gumilang. Pesantren ini merupakan usaha dari Yayasan Pesantren Indonesia (YPI).

Pembangunan pesantren dimulai pada 13 Agustus 1996 silam. Dibuka awal pembelajaran dilaksanakan pada 1 Juli 1999.

Ponpes Al Zaytun disebut Washington Times pada 29 Agustus 2005 sebagai pesantren terbesar se-Asia Tenggara ("the largest Islamic madrasah in Southeast Asia").

Pesantren berdiri di atas lahan seluas 1.200 hektare. Pada 2011 saja, tercatat memiliki sekitar 7.000 santri. Bukan hanya dari dalam negeri, namun juga dari mancanegara.

(Arief Setyadi )

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement