SOEHARTO, Presiden Kedua RI dikenal sebagai sosok yang ikut berperan dalam penumpasan Partai Komunis Indonesia (PKI). Namun, siapa sangka ternyata dirinya pernah ditangkap karena disangka perwira TNI simpatisan PKI.
Letkol Soeharto ditangkap pasukan Siliwangi (kini Kodam III/Siliwangi) di Solo. Operasi penangkapan itu dilakukan karena di Solo banyak tentara terpengaruh dan terafiliasi dengan PKI yang membentuk FDR.
Bahkan, akibat ulah PKI terjadi kesalahpahaman hingga menimbulkan baku tembak berskala besar antara Pasukan Siliwangi vs Pasukan Panembahan Senopati.
Saat peristiwa penangkapan, kebetulan Letkol Soeharto yang memang melakukan “kunjungan” ke Madiun usai merebaknya isu Republik Soviet di Madiun.
Sepulangnya ke Yogya melewati Solo, Soeharto dicegat dan ditangkap Pasukan Siliwangi yang tengah berjaga di pos dekat Jembatan Jurug, Solo.
Lucunya, Letkol Soeharto disangka perwira TNI simpatisan PKI karena namanya sama dengan perwira TNI simpatisan PKI, Mayor Soeharto, perwira asal Solo berafiliasi dengan PKI.
“Sewaktu saya kembali dari Jawa Timur, persis di Jembatan Jurug Solo, saya ditahan, lalu di bawa ke pos Siliwangi. Saya dilucuti, senjata saya diambil. Ternyata karena nama saya Soeharto, saya dikira Mayor Soeharto dari batalion di Solo,” kata Soeharto dalam autobiografinya, ‘Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya’.
Selama tiga hari, Soeharto diinterogasi dan ditahan di markas Siuliwangi di Kantor Wali Kota Solo. Kemunculan perwira Siliwangi Kolonel Sadikin membuat Soeharto bisa bernapas lega.
“Lho, mengapa kamu di sini?” tanya Kolonel Sadikin.
“Saya sendiri tidak tahu mengapa saya ditahan di sini,” jawab Soeharto.
“Dia teman kita. Letnan Kolonel Soeharto dari Yogya,” seru Kolonel Sadikin pada anak buahnya.
Kolonel Sadikin mengenali Soeharto hingga akhirnya dibebaskan. Kemudian, memerintahkan Soeharto dibebaskan dan senjatanya dikembalikan.
Pasukan Siliwangi merupakan satu dari sejumlah kesatuan tentara republik di masa revolusi fisik 1945-1949 yang paling besar ujian perjuangannya. Mulai dari memerangi Belanda hingga “saudara” sendiri (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia dan Front Demokrasi Rakyat).
Kesatuan petarung maung ini lahir pada 20 Mei 71 tahun silam (1946).
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.