Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Rumahnya Disatroni Maling, Jenderal Hoegeng Malah Tertawa Terpingkal-pingkal

Rahman Asmardika , Jurnalis-Sabtu, 15 Juli 2023 |05:01 WIB
Rumahnya Disatroni Maling, Jenderal Hoegeng Malah Tertawa Terpingkal-pingkal
Kapolri Hoegeng. (Foto: ist.)
A
A
A

JAKARTA Jenderal Hoegeng dikenal sebagai sosok polisi teladan yang jujur, berintegritas, dan sederhana. Meski pernah menjabat sebagai Kapolri, pria kelahiran 14 Oktober 1921 itu tidak bergelimang kekayaan, barang mewah, atau rekening gendut.

Ada kejadian unik kala seorang maling menyatroni rumah Hoegeng di Jalan Madura, Menteng. Kala itu, Hoegeng masih menjabat sebagai Kapolri, sehingga maling itu mengira akan ada banyak harta di rumah tersebut.

Putra kedua Hoegeng, Aditya Soetanto Hoegeng atau Didit menceritakan kejadian itu dalam buku Hoegeng Polisi dan Menteri Teladan karya Suhartono.

"Pencuri hanya berhasil membawa baju seragam Kapolri Papi yang baru dijemur. Waktu itu, (di) baju seragam Papi masih menempel tanda-tanda kepangkatannya, yang baru selesai dibraso oleh Pak Pardi, staf ajudan Papi," kata Didit.

Bukannya marah karena kejadian itu, Hoegeng justru tertawa terpingkal-pingkal, dan mengatakan, "Mungkin dikiranya baju itu penuh emas ya, padahal itu cuma logam yang tiap hari digosok."

Didit mengungkapkan kehidupan ekonomi keluarga hanya ditopang dari gaji ayahnya sebulan dan tunjangannya sebagai menteri atau Kapolri.

"Meskipun Papi pernah menjadi menteri dan Kapolri, kami hidup dalam ekonomi pas-pasan. Bahkan, adakalanya kekurangan. Kami hanya punya rumah, itu pun masih disewa dengan membayar uang bulanan," ujar Didit.

Sejak berhenti sebagai Kapolri hingga 2001, uang pensiunan Hoegeng hanya Rp10.000 per bulan.

"Namun Papi hanya menerima Rp7.500 setiap bulannya karena dipotong ini-itu. Baru pada tahun 2001, ada perubahan surat keputusan pensiun sehingga pensiun Papi naik menjadi Rp1.170.000 per bulan. Akan tetapi, setelah Papi meninggal pada 2004, Mami hanya menerima separuhnya karena Mami pensiunan janda Kapolri," ungkap Didit.

Ketika menjabat Menteri/Sekretaris Presidium Kabinet pada 1966, Hoegeng pernah punya seorang sekretaris yang sangat loyal dan mengabdi. Namanya Soedharto Martopoespito atau akrab disapa Dharto. Menurut Dharto, Hoegeng saat menjabat Menteri Iuran Negara juga tak mau mengumpulkan harta kekayaan bagi keluarga. Sikap Hoegeng tersebut membuat kehidupan sehari-hari dan keluarganya tetap bersahaja.

(Rahman Asmardika)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement