JAKARTA – Raja Kediri Prabu Jayabaya dikenal sebagai penulis tulisan berisi nubuat yang disebut sebagai Ramalan Jayabaya. Nubuat sang raja ini terdiri dari beberapa naskah di antaranya Serat Jayabaya Musarar, Serat Pranitiwakya, dan sempat pula disinggung dalam Babad Tanah Jawi.
Dalam salah satu bait naskah tersebut, Prabu Jayabaya meramalkan suatu masa penuh bencana dan penderitaan. Pada masa itu kesewenang-wenangan dan ketidakpedulian merajalela dengan orang-orang licik berkuasa sementara orang-orang baik akan tertindas, sebagaimana dituliskan:
"Akeh ingkang gara-gara. Udan salah mangsa prapti. Akeh lindhu lan grahana. Dalajate salin-salit. Pepati tanpa aji. Anutug ing jaman sewu, Wolung atus ta iya Tanah Jawa pothar pathir, Ratu Kara Murka Kuthila pan sirna".
Terjemahannya :
"Banyak kejadian dan peristiwa alam maupun dalam kehidupan masyarakat manusia yang luar biasa. Musim penghujan tidak teratur dan sering datang dengan curah hujan tinggi (kebanjiran) hingga tidak ada curah hujan sama sekali (kekeringan). "
"Gempa bumi sering terjadi dan menelan banyak korban jiwa manusia, ternak, dan harta benda, demikian juga sering terjadi fenomena alam misterius yakni terjadinya gerhana bulan, dan gerhana matahari."
Namun, setelah masa bencana itu Jayabaya meramalkan datangnya masa yang penuh kejayaan dan kemegahan. Masa itu ditandai dengan datangnya sosok yang disebut sebagai Satria Piningit atau Ratu Adil.
"Tapi, setelah masa yang paling berat itu, akan datang zaman baru, zaman yang penuh kemegahan dan kemuliaan. Zaman Keemasan Nusantara. Dan zaman baru itu akan datang setelah datangnya sang Ratu Adil, atau Satria Piningit," jelas Masud Thoyib Adiningrat, Budayawan Jawa yang juga Pengageng Kedaton Jayakarta.