JAKARTA- Inilah daftar hewan-hewan langka di Gunung Bromo yang harus merasakan dampak kebakaran hutan akibat ulah manusia-manusia sembrono.
Kasus kebakaran di Kawasan Gunung Bromo tentu sangat menyedihkan bagi para netizen yang umumnya merupakan penikmat wisata di kawasan tersebut.
Upaya pengendalian api dilakukan tim gabungan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS), dibantu TNI, Polri, juga relawan dan warga setempat dengan melakukan berbagai langkah. Mereka bergotong royong agar api dari percikan flare tidak meluas dan mengganggu habitat hewan langka.
Saat ini Balai Besar TNBTS secara resmi telah membuka kawasan tersebut. Namun juga disertai dengan berbagai larangan, khususnya barang bawaan. Aturan ini harus dipatuhi oleh para pengunjung.
Nah berikut daftar hewan-hewan langka di Gunung Bromo yang dirangkum dari berbagai sumber, Rabu (20/9/2023).
Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) diketahui memiliki tipe ekosistem sub-montana, montana dan sub-alpin. Hal ini terlihat dari pohon-pohon besar berusia ratusan tahun, seperti cemara gunung, jamuju, edelweis, berbagai jenis anggrek dan rumput langka.
Kawasan TNBTS juga memiliki satwa liar yang dilindungi, seperti Rusa (Rusa Timorensis), Luwak (Paradoxurus hermaphroditus), Monyet Kera (Macaca fascicularis), Kijang (Muntiacus muntjak), Ayam Hutan Merah (Gallus gallus), Ajag (Cuon alpinus javanicus), Macan Tutul (Panthera pardus melas) dan Lutung Jawa.
Berbagai jenis burung juga berhabitat di TNBTS yang terdiri Alap-alap (Accipiter virgatus), Elang Ular bido (Spilornis cheela bido), Rangkong (Buceros rhinoceros silvestris), Srigunting hitam (Dicrurus macrocercus), Elang Bondol (Haliastur indus), dan burung Belibis.
1. Elang Jawa (Nisaetus bartelsi)
Elang Jawa memiliki ukuran tubuh sekitar 70 cm, rentang sayap mencapai 100 cm, dan warna bulu keseluruhan coklat. Elang Jawa memiliki ciri khas jambul di bagian kepalanya dan umumnya dijumpai pada kawasan hutan dataran rendah dengan ketinggian 600-2.000 mdpl.
Elang Jawa yang identik dengan lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu Garuda, ditetapkan melalui Keputusan Presiden No. 4 Tahun 1993 sebagai satwa langka nasional.
Sampai dengan tahun 2021 saja estimasi populasi Elang Jawa di kawasan TNBTS hanya sejumlah 35 ekor saja.
2. Elang Ular Bido (Spilornis cheela)
Elang Ular Bido memiliki ciri khas kulit berwarna kuning tanpa bulu di antara mata dan paruh. Kakinya berwarna kuning, memiliki sayap lebar dan membulat, berwarna gelap, dan memiliki ekor pendek.
Elang jenis ini sering melintasi hutan, perkebunan dan padang rumput. Mereka umumnya dijumpai pada ketinggian 700-2.000 mdpl.
Elang Ular Bido merupakan jenis aves (burung) yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018.
3. Macan Tutul Jawa atau Macan Kumbang (Panthera Pardus Melas)
Hewan satu ini adalah satwa endemik Pulau Jawa. Macan Tutul Jawa memiliki dua jenis warna kulit yaitu berwarna terang (merah kekuning – kuningan) dan berwarna hitam.
Fauna ini hanya ditemukan di hutan-hutan tropis, pegunungan, dan kawasan konservasi Pulau Jawa, salah satunya di Kawasan Taman Nasional Gunung Bromo Tengger Semeru.
Macan Tutul Jawa mempunyai penglihatan dan penciuman yang tajam. Bentuk tubuhnya berukuran kecil. Pada umumnya, fauna ini memiliki bulu seperti sayap kumbang berwarna hitam mengkilap. Hal ini berfungsi untuk beradaptasi dengan habitat hutan yang lebat dan gelap.
Macan Tutul Jawa termasuk fauna langka di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, karena populasi Macan Tutul Jawa kemungkinan hanya tersisa sekitar 10 ekor. Dikarenakan populasinya yang semakin sedikit, membuat Macan Tutul Jawa termasuk ke dalam kategori terancam punah dalam Daftar Merah IUCN (The International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources) sejak 2008.
4. Lutung Jawa (Trachypithecus Auratus)
Lutung Jawa merupakan salah satu jenis lutung endemik Indonesia. Habitat alami dari Lutung Jawa adalah kawasan hutan dengan berbagai jenis dari hutan bakau, hutan rawa, hingga hutan dataran tinggi. Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru juga merupakan habitat Lutung Jawa.
Spesies Lutung Jawa mempunyai ukuran tubuh yang kecil, sekitar 55 cm dan ekor yang panjangnya mencapai 80 cm. Lutung merupakan satwa diurnal (aktif di siang hari terutama di atas pohon). Makanan Lutung Jawa yakni beberapa jenis buah-buahan, biji – bijian, dan bunga. Terkadang binatang ini juga memakan kulit kayu dan serangga.
5. Elang Brontok/Burung Rajawali (Nisaetus cirrhatus)
Elang Brontok memiliki ukuran tubuh dari paruh hingga ekor sepanjang 60-80 cm. Bentangan sayap Elang Brontok dapat mencapai 1,5 kali hingga 2 kali panjang tubuhnya.
Mereka memiliki warna bulu yang dapat berubah-ubah menyesuaikan kondisi musim sehingga bagi pengamat burung nasional maupun internasional sering disebut sebagai Changeable Hawk Eagle (CHE).
Elang ini merupakan burung predator (raptor) yang biasa memakan daging sebagai pakan utamanya. Dalam berburu mangsa, daerah jelajah (home range) elang brontok dapat menyebar hingga radius 50 km.
Spesies ini termasuk dalam golongan hewan penyendiri (soliter) yang memiliki radius rumah (teritorial) seluas 2-5 km.
Elang Brontok biasa hidup menyendiri dan akan mencari pasangan saat memasuki musim kawin dalam 2-3 tahun sekali. Dalam sekali musim kawin, elang brontok betina hanya menghasilkan 1 butir telur saja. Oleh karena itu, status populasi elang brontok menurut IUCN Redlist selalu mengalami penurunan.
Sedikitnya jumlah individu elang brontok mengakibatkan sedikitnya penelitian dan publikasi ilmiah mengenai temuan elang brontok di dunia.
(Hafid Fuad)